Selasa, 06 Januari 2015

Cara Membuat Sendiri Inokulan Gaharu Bagian 2



Cara Membuat Sendiri Inokulan Gaharu Bagian 2

Tulisan ini merupakan pengembangan dari tulisan pertama, yang berjudul Cara Membuat Sendiri Inokulan Gaharu yang kami rilis beberapa waktu yang lalu.

Tulisan ini akan panjang dan lebar, karena kami akan menjelaskannya secara rinci dan mendetail. Untuk itu kami sarankan agar Anda menyiapkan terlebih dahulu wedang kopi dan pisang goreng hangat untuk menemani Anda membaca tulisan kami yang oke punya ini..

Bahan-bahannya :
1.1 kg kentang segar yang bagus dan bebas cacat atau sedikit bintik-bintiknya.
2.3,5 liter Aquadest, beli di apotik. Kalau tidak ada, bisa juga pakai air botolan merk AQUA dari pabrik, jangan yang isi ulang.
3.20 gram Dextrose. Beli di toko kimia. Kalau tak ada, pakai gula pasir yang sudah dijemur kering.
4.1 bungkus tepung agar-agar cap Swallow. Beli di warung/toko bahan makanan. Kalau tak ada, cari sampai dapat.
5.1 potong besar roti tawar.
6.50 gram bagian pohon pisang yang mati layu kena jamur fusarium sp. Cirinya, jika pisang ditebang, bonggol, batang semu  dan pelepah serta isi buahnya ada bercak coklat kehitaman di sebelah dalam. Ambil bagian yang kehitaman ini, memotongnya harap dengan parang/pisau yang bersih, jangan bekas rempah-rempah/bumbu dapur.

Kutipan :

        Penyakit layu fusarium (panama) pada pisang.

a.      Gejala
Gejala dari penyakit ini adalah sepanjang jaringan pembuluh pada batang semu berwarna coklat kemerahan. Daun menguning dan menjadi layu, tangkainya menjadi terkulai dan patah. Kadang-kadang lapisan luar batang semu terbelah dari bawah ke atas. Yang paling khas adalah jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun.
b.      Patogen
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium oxysparum f. sp. cubense. Jamur penyebab penyakit ini hidup didalam tanah, masuk ke dalam akar, selanjutnya masuk ke dalam bonggol dan jaringan pembuluh. Penularan penyakit ini dapat melalui bibit, tanah dan air yang mengalir mengandung spora jamur.






Sebaiknya pilihlah pohon pisang yang belum berbuah, karena jika sudah berbuah, kemungkinan ia terserang jamur jenis lain.

Alat-alatnya :
1.Kompor.
2.3 pcs bejana atau panci.
3.Spatula atau sutil pengaduk.
4.Blender.
5.Toples kaca besar bertutup.
6.Literan/penakar.
7.Pisau.
8.Telenan, landasan.
9.Sarung tangan karet atau cucilah tangan Anda sebersih-bersihnya.
10.Parang.
dll.

Langkah-langkahnya :

1.Belah dua roti tawar, usapkan sedikit air di permukaan atasnya. Taruh di tempat terbuka selama seminggu. Nanti akan tumbuh jamur aspergillus niger, tandanya ada benang-benang halus kehitaman.
2.Cuci kentang dgn air bersih, kupas, potong dadu kecil-kecil. Pakai pisau dan telenan yang bersih.
3.Rebus kentang dengan aqua hingga empuk. Saring, ambil kaldunya saja. Kentangnya bisa dibikin makanan.
4.Saat masih panas, campurkan dextrose/gula pasir dan agar-agar, aduk hingga larut.
5.Jika larutan kurang dari 1 liter, tambahkan aqua.
6.Aduk lagi, lalu masukkan ke dalam toples kaca. Tutup rapat. Biarkan hingga benar-benar dingin dan mengental/beku.
7.Bagi dua PDA (Potato Dextrose Agar) ini ke dalam dua wadah. Tutup.   
8.Blender bonggol/bagian pisang yang terkena fusarium. Boleh ditambah sedikit aqua.
9.Sebarkan hasil blenderan tadi di atas PDA di satu wadah (wadah A). Tutup.
10.Sobek kecil-kecil roti jamuran, sebarkan ke atas PDA satunya lagi (wadah B). Tutup.
11.Biarkan selama 10 hari. Simpan di tempat yang teduh.
12.Jika terlihat sebaran aspergillus nigre belum banyak, biarkan 3 hari lagi.
13.Blender isi wadah A. Tambahkan dulu 1 liter aqua. Jika kapasitas blender tidak cukup, boleh diblender beberapa kali lalu satukan.
14.Peras/saring dengan kain tipis.
15.Cuci blender.
16.Perlakuan yang sama untuk isi wadah B. Semua peralatan harus dicuci bersih dulu dengan air bersih tanpa sabun. Kain saringan sebaiknya pakai yang baru.
17.Inokulan siap pakai.
18.Suntikkan inokulan di dua lubang yang berbeda tapi berdekatan secara berseling. Misalnya lubang 1, 3, 5 dst dengan inokulan fusarium sp, lubang 2, 4, 6 dst dengan inokulan aspergillus nigre.
19.Minum wedang kopi lalu makan pisang goreng anget, biar tambah tenaga waktu menginokulasi pohon gaharu.

Mengenai cara menginokulasi pohon gaharu, silahkan ditilik pada tulisan kami yang telah lalu.

Tips :
Ukuran toples 2 liter.
Tutup toples harus serapat mungkin. Boleh tambahkan penutup plastik 5 lapis diikat karet 30 buah.
Bekerjalah di ruang tertutup yang benar-benar bersih. Jangan ada hewan/anak kecil di dalam ruangan.
Hindarkan toples dari cahaya langsung.

Bila ada yg kurang jelas, boleh konsultasi langsung dengan kami di hp 0813 7000 8997, antara pukul 20.00 WIB sd. pukul 22.00 WIB. Gratis.

Di luar jam tersebut,konsultasi tidak dilayani, kecuali yang telpon adalah janda muda yang cakep. Wakakakakakaka........

***

NB.Mari sedekah ilmu sebanyak-banyaknya.

Sabtu, 27 Desember 2014

Modus Jual Bibit Gaharu Tanpa Inokulasi

Seorang kenalan dari Batam datang berkunjung ke gubuk reot kami beberapa hari yang lalu. Setelah dua sesi kursus kilat tentang budidaya aren, Pak Leo, demikian nama tamu yang datang itu, berkenan untuk melihat-lihat pembibitan gaharu kami yang jumlahnya tak seberapa. Jenisnya aquilaria malaccensis, merupakan jenia gaharu endemik Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pembicaraan pun lalu berlanjut laiknya wawancara seorang peminat gaharu dengan seorang ‘pakar gaharu antara bangsa’. ( keh keh keh …)
Saya pun memaparkan sesuai apa yang saya tahu, tanpa bumbu penyedap yang memang tidak perlu.
Akhirnya Pak Leo bercerita tentang seorang temannya yang telah membeli 10 pohon bibit gaharu super. Sepohonnya seharga Rp.350.000. Menurut klaim penjualnya, bibit itu akan tumbuh menjadi pohon gaharu penghasil gubal, tanpa harus melalui proses inokulasi. Gubal atau karas yang terbentuk juga akan bermutu tinggi, karena pembentukan gubal terjadi secara alami dalam waktu yang panjang (8 tahun).
“Benarkah memang ada bibit gaharu yang seperti itu?”tanya Pak Leo di akhir ceritanya.
Saya kontan tersentak kaget. Bertahun-tahun mendalami ilmu tentang gaharu, baru kali ini ada klaim tentang adanya jenis pohon gaharu yang bisa menghasilkan gubal tanpa harus diinokulasi. Kaget saya juga makin mendekati level galau tingkat dewa, mengetahui ada bibit gaharu yang dijual dengan harga selangit seperti itu. Padahal rata-rata harga bibit gaharu siap tanam antara Rp.10.000-Rp.20.000 saja perpokok. Yang termahal, varian krisna, paling juga cuma Rp.50.000/pokok.
“Setahu saya, tidak ada jenis gaharu yang bisa seperti itu, Pak Leo. Gubal hanya terjadi bila ada faktor eksternal yang mempengaruhi, semisal serangan jamur fusarium sp. Secara alami itu terjadi saat ada dahan pohon gaharu yang patah. Secara buatan, jamur itu memang disuntikkan”, saya menjawab pertanyaan Pak Leo sesaat setelah kaget saya berangsur berkurang.
“Wah, kalau gitu, kawan saya itu sudah kena modus ya?”, tanya Pak Leo dengan mimik prihatin.
“Sepertinya begitu”, tukas saya cepat.
Sepulang Pak Leo, saya kemudian mendiskusikan fenomena ini dengan beberapa teman yang tergabung dalam AIPA, sebuah grup di Facebook yang khusus membahas tentang gaharu. Hasilnya, ya lebih kurang sama. Modus. Mereka melukai batang bibit gaharu, lalu menyelipkan gubal gaharu yang sudah jadi. Empat bulan kemudian luka itu akan tampak alami sebab kambium menutupi luka. Gubal selipan itulah yang kemidiian dicungkil lalu didemonstrasikan di depan calon pembeli bibit gaharu. Dibakar, ya wangi. Walah! Dus modus!
***
Pohon gaharu memang bisa menghasilkan uang yang banyak. Namun tehnik budidayanya juga tidaklah mudah. Pada umur 5 tahun atau pada saat diameter batang sudah mencapai 15 cm, pohon harus diinokulasi agar menghasilkan gubal atau karas gaharu. Gubal itu  sendiri adalah bagian kayu pohon gaharu yang berubah menjadi berwarna hitam, atau coklat kehitaman dan bila dibakar akan berbau wangi.
Bau wangi ini berasal dari berbagai unsur yang terdapat di dalam resin gaharu. Diantara unsur itu adalah phytalyosin. Resin yang dimaksud di sini adalah getah yang dikeluarkan pohon gaharu, sebagai serum/antibody terhadap serangan isolat yang hinggap atau sengaja disuntikkan.
Ada beberapa jenis isolat berdasarkan bahan pendukungnya. Isolat bio semisal jamur tadi, isolat kimia bisa berbentuk senyawa etilen, dan ada juga yang mengunakan isolat jenis acid. Adapun isolat tradisional bisa berupa minyak oli kotor, minyak jelantah, soda api, ubi busuk, dll.
Berdasarkan tehnik penerapan isolatnya, proses pemicuan terbentuknya gubal dibagi dua, inokulasi dan aerokulasi. Inokulasi dilakukan dengan cara mengebor batang kayu sedalam sepertiga diameter batang, lalu ke dalam lubang disuntikkan 1-2 ml isolat, kemudian lubang ditutup dengan lilin malam atau tanah liat. Dalam satu pohon, jumlah lubang bisa sampai ratusan.
Bila lubang tidak ditutup, maka itu termasuk tehnik aerokulasi. Umumnya cara ini menggunakan mata bor yang lebih kecil, 3 mm. Tehnik yang terbaru adalah dengan mengelupas kulit batang pohon lalu mengusapkan sejenis inducer berbasis bahan kimia.
***
Kendala utama budidaya gaharu pada dasarnya ada empat.
1.Mahalnya harga inokulan atau aerokulan.
Harga inokulan atau aerokulan di pasaran berkisar antara Rp.500.000 s.d Rp.1.200.000 per liternya. Satu liter hanya cukup untuk 4-6 batang pohon, tergantung besarnya pohon. Bahkan, sejenis inokulan cair keluaran Sabah, Malaysia, direkomendasikan dengan dosis 2 liter perpohonnya. Padahal mereka menjual inokulan produk mereka itu dengan harga RM300 alias sekitar satu juta Rupiah perliternya!
Karena itulah kami di AIPA merintis sebuah upaya untuk menyusun formula isolat yang bagus, namun harganya bersahabat dengan petani kecil berkantong cekak. Beberapa percobaan tampaknya memberikan harapan yang baik. Gubal dan kamedangan yang terbentuk menjadi lebih banyak dan lebih cepat.
2.Sulitnya melakukan proses inokulasi.
Mengebor ratusan titik pada pohon yang berdiri tegak, menyuntikkan beberapa tetes inokulan ke dalam tiap lubang, lalu menutupnya kembali dengan lilin malam, bukanlah pekerjaan mudah. Resikonya juga cukup tinggi. Selain itu, semua peralatan harus dijaga agar tetap suci hama, untuk mencegah masuknya benih penyakit yang tak dikehendaki pada pelukaan pohon. Biasanya tehnisi menggunakan alcohol 70% pada peralatan dan pada lubang yang baru terbentuk untuk menjaganya tetap steril.
3.Tingkat keberhasilan yang tidak dapat diprediksi.
Tak jarang juga proses inokulasi yang memakan biaya, tenaga dan waktu yang banyak itu berakhir dengan gatot alias gagal total.
Penyebabnya adalah :
a.Jenis isolat tidak sesuai.
Ini terjadi karena pohon penghasil gaharu ada sekitar 27 jenis, dan menghendaki isolat yang berbeda. Jenis gaharu yang paling mudah diinokulasi dan paling tinggi tingkat keberhasilannya adalah aquilaria malaccensis. Namun harga jual gubalnya hanya sekitar Rp5 juta/kg.
b.Terjadi pembusukan pada batang pohon yang dibor.                                                                                                                                                               Ini karena peralatan yang dipakai kurang steril atau bisa juga karena lubang bor kemasukan air. Karena itu proses inokulasi dianjurkan dilakukan di musim kemarau.
c.Terjadinya restorasi.                                                                                                                                                                                                                          Gubal dan kamedangan yang sudah terbentuk kembali menjadi kayu. Penyebabnya adalah isolat yang diterapkan, kalah oleh resin yang dikeluarkan oleh pohon gaharu. Ingat, resin yang wangi tadi, dikeluarkan oleh pohon gaharu, adalah bertujuan untuk mengobati luka dan mengatasi serangan isolat yang terjadi. Resin = serum. Ciri inokulasi yang berhasil adalah : daun sebagian tampak layu setelah 3 bulan diinokulasi, lalu pulih kembali. Jika tidak pulih, maka pohon akan mati dan ini berarti gubal belum terbentuk sempurna. Gubal mulai sempurna dalam masa tiga tahun sesudah inokulasi. Jika begini, maka petani hanya akan mendapatkan kamedangan, yang harga jualnya sekitar Rp.200.000-Rp.500.000 per kg.
Pohon mati bisa disebabkan karena lubang terlalu banyak atau dosis isolat terlalu tinggi, atau bisa juga karena terjadinya pelapukan akibat tehnik bor yang salah. Ketika mengebor, inti pohon jangan sampai kena mata bor. Lubang bor yang terlalu banyak dan rapat juga akan membuat pohon mudah patah ketika ada angin kencang.
4.Tidak jelasnya pemasaran gubal gaharu.
Gubal gaharu adalah barang langka yang mahal dan diburu pembeli, baik pembeli dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Tapi umumnya mereka tidak mau bermain secara terbuka. Harga dan grade ditetapkan semata-mata berdasarkan kesepakatan. Tentu saja ini membuka peluang permainan yang sangat besar. Petani yang tidak memahami grade dan harga, tentu mudah sekali menjadi pihak yang dirugikan.
Hal ini dapat diminimalisir dengan melakukan kerjasama dengan pihak ASGARIN. Asosiasi Gaharu Indonesia adalah sebuah wadah professional yang membantu petani dan pedagang gaharu di Indonesia.
Bersambung ….

Menanam Aren, Menata Masa Pensiun

Agrobisnis

Bang

Pilot

Nama asli : Muhammad Isnaini. Tinggal di Batu Bara, Sumut. Pemilik blog : http://bibitsawitkaret.blogspot.com/ . Menulis apa saja yang selengkapnya
Menanam Aren, Menata Masa Pensiun OPINI | 02 December 2014 | 21:50 Dibaca: 129   Komentar: 14   7  
Namaku Bang Pilot. Setidaknya, begitulah semua orang di lingkunganku memanggilku.
Aku adalah seorang petani kecil. Hidup secara sangat sederhana di pelosok Kabupaten Batu Bara, Propinsi Sumatera Utara.
Aku berasal dari keluarga kurang mampu, tidak mampu malah, hingga aku harus sudah bekerja saat masih duduk di bangku kelas dua SD.
Pekerjaan pertamaku di usia delapan tahun itu adalah memanjat pinang. Membelinya dari penduduk, lalu menjualnya ke agen pengumpul.
Kulakukan itu setiap hari, sesudah pulang sekolah. Sebuah sepeda tua setia menemani aku keliling kampung untuk memanjat, membeli dan menjual buah pinang.
Itu adalah sekitar awal tahun 80-an. Dan aku masih ingat, penghasilanku satu hari saat itu sekira 200 Rupiah. Buatku, jumlah itu cukup lumayan, mengingat uang jajanku hanya Rp.25 setiap harinya.
Sekarang, setelah 33 tahun bekerja, aku merasa lelah, dan ingin segera pensiun. Namun keadaan belum memungkinkan. Karena itulah aku menanam aren. Di atas tanah yang dulu kubeli dengan susah payah. Sebidang kebun mungil yang kubangun dengan hasil jerih payah yang keras dan mengharukan. Berharap tujuh atau delapan tahun lagi aku bisa berhenti bekerja. Beristirahat panjang sambil jalan-jalan naik hoverboard keliling dunia.
Diatas tanah seluas 4.000 meter persegi itu kutanami dengan 300 pohon aren, dengan jarak tanam 3 x 4 meter. Kelilingnya akan kutanami dengan 200 pohon gaharu jenis aquilaria malaccensis, yang bibitnya sedang kusiapkan.
Jarak tanam arenku itu janganlah diikuti, karena sebenarnya itu terlalu rapat. Efeknya adalah akan makin lamanya masa tunggu produksi. Jarak tanam normal aren adalah 5x6 meter. Atau 333 batang perhektar.
 
1417530359500669142
Rudi, salah satu pekerjaku, sedang menanam aren.
Sementara masih bisa dimanfaatkan, sudah kusebar 10.000 batang tangkaran bibit sawit di antara tanaman aren yang masih kecil itu.
Namun, semua itu bukan tanpa pengorbanan. Aku harus mematikan tanaman kelapa sawit yang sudah sepuluh tahun ini kurawat dengan baik, karena lahan itu sebelumnya adalah kebun sawit. Aku tak punya pilihan lain.
Aku mematikan pohon sawit itu dengan cara menginjeksikan herbisida sistemik ke dalam batangnya. Tentu saja dengan mengebor batangnya terlebih dahulu dengan bor listrik. Amma bakdu, 20 cc racun pekat rasanya cukuplah untuk menghantarkan tegakan sawit itu ke peristirahatannya yang terakhir.
1417530843365994652
Mengebor batang sawit
1417531188636046089
Menyuntikkan herbisida ke batang sawit
Karena penasaran untuk melakukan ujicoba, beberapa pohon diantaranya tidak dibor, tetapi dieleminasi dengan cara “akarotoxcid”. 20 cc herbisida dilarutkan ke dalam 200 cc air, lalu disusukan ke 3-4 helai akar pohon kelapa sawit itu.
14175315721873240181
Menyusukan racun ke pohon sawit
Aku tak berharap muluk-muluk. Jika nanti 50% dari 300 pohon arenku disadap tiap harinya, dan satu pohon bisa menghasilkan 1 kg gula aren seharga Rp.20.000, maka akan ada angka 150 x 20.000 = Rp.3.000.000 di kocekku setiap harinya. Dipotong upah penyadap serta biaya lain-lain sebesar Rp.1.000.000, maka masih ada sisa Rp.2.000.000 mengisi pundi-pundiku setiap matahari terbenam, selama minimal 5 tahun, dan kalau aku masih bernyawa.
Dari 200 pohon gaharu, aku juga tak berharap banyak. Sudah cukup lumayan kalau bisa menghasilkan 1 kg gubal dan 5 kg kamedangan untuk setiap pohonnya. Jika kualitas gubal dan kamedangan itu kelas dua saja, maka berarti setidaknya uang sejumlah 200 x 4.000.000 + (200 x 5 x 100.000) = Rp.900.000.000 bisa di tangan dalam masa delapan tahun.
Lha, biaya inokulasinya bagaimana? Tenang, inokulannya bikin sendiri, dan upah bornya harian saja. Paling juga habis biaya 30 HK x 70.000 = Rp.2.100.000. Gak terlalu ngaruh terhadap angka besar sebelumnya, kan?
Aku memang pengkhayal besar. Tetapi khayalanku diikuti dengan usaha yang nyata, dan perhitungan yang masuk akal. Mudah-mudahan berhasil.
Kalau berhasil, maka aku akan dapat pensiun nyaman. Sambil bermain hoverboard. Skateboard yang melayang di atas segala permukaan. Saat ini harganya masih USD 10.000. Dan hanya ada 10 unit di seluruh dunia.
Walah!

Berapa Jarak Tanam Singkong yang Terbaik?

Agrobisnis

Bang

Pilot

Nama asli : Muhammad Isnaini. Tinggal di Batu Bara, Sumut. Pemilik blog : http://bibitsawitkaret.blogspot.com/ . Menulis apa saja yang selengkapnya
Berapa Jarak Tanam Singkong yang Terbaik? HL | 05 December 2014 | 00:42 Dibaca: 419   Komentar 27  Bintang  16
1417715247523421342
Jarak tanam singkong bertajuk sedang
Handphone berdering. Seseorang menelepon dan menanyakan berapa jarak tanam singkong malaysia yang sebenarnya. Ia juga mengatakan bahwa ia telah berkonsultasi dengan teman suaminya, seorang sarjana pertanian, yang mengatakan bahwa jarak tanam singkong jenis itu adalah 40 x 40 cm.
Saya terhenyak dengan kening berkerinyit. Hati saya membatin, “Dari mana pulak sarjana pertanian itu dapat ilmu?….”
Singkat cerita, akhirnya saya persilakan penelepon itu, seorang perempuan, untuk datang langsung dan belajar teknik budi daya singkong di demplot kelompok tani kami, dengan dibimbing oleh seorang petani senior yang spesialisasinya memang di bidang “persingkongan”. Nama tutor itu adalah Pak Warianto. Beliau sudah belajar ilmu singkong sampai ke Lampung, Kalimantan Timur, Malang, dan lain daerah, sebagai petani utusan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Jarak tanam singkong itu tergantung kepada jenisnya. Karena beberapa jenis singkong tajuk pohonnya lebar, sedang yang lainnya bertajuk sempit. Karena itu, idealnya, saat sudah dewasa, tajuk pohon singkong tidak boleh berhimpitan, tetapi juga tak boleh menyisakan ruang, agar hasil optimal.
Sebagai contoh, singkong malaysia dan singkong kuning yang bertajuk sempit, pohonnya kecil dan rendah, tangkai daunnya pendek serta helai daunnya juga relatif tidak lebar, maka jarak tanam idealnya adalah 80 x 80 cm. Adapun jenis singkong kasesa, singkong tahun, singkong hijau, singkong malang, singkong pulut, singkong trambesi, singkong begog, singkong andira, singkong roti, singkong keling, dan jenis singkong bertajuk sedang lainnya, maka jarak tanam standarnya adalah 100 x 100 cm, atau sistem double row = 80 x 160 cm. Yang terakhir adalah jenis singkong mukibat, singkong gajah dan singkong darul hidayah, dengan jarak tanam yang disarankan adalah 100 x 150 cm.
Kesuburan tanah juga berpengaruh pada jarak tanam ideal. Makin subur tanah, maka makin lebarlah jarak tanam. Pada tanah yang sangat subur, maka jarak tanam singkong malaysia adalah 100 x 100 cm, singkong kasesa dkk adalah 120 x 120 cm, serta singkong gajah dkk menjadi 100 x 200 cm.
Satu pohon hanya disisakan satu batang saja. Bila dalam satu stek tumbuh lebih dari satu tunas atau satu batang, maka tinggalkanlah batang yang paling bagus, buanglah batang yang kurang bagus. Pengurangan tunas atau batang ini biasa disebut penunasan, dilakukan pada saat umur singkong sudah penuh 3 bulan. Namun, sebagian petani menyisakan 2 batang tegakan dalam satu pohon. Ini dilakukan bila perbanyakan stek masih dibutuhkan, atau singkong jenis ini steknya laku dijual.
Bila jarak tanam terlalu rapat, atau jumlah batang tegakan terlalu banyak maka yang terjadi bukanlah banyaknya umbi segar yang didapat, tetapi tegakan pohon yang batangnya kecil tinggi, mudah rebah, dan umbinya kecil lagi sedikit.

Cara Memilih Polybag



Cara Memilih Polybag

Polybag, selanjutnya ditulis polibeg, adalah kantong plastik berlubang-lubang yang biasanya dipakai sebagai wadah media tempat tumbuh bibit tanaman.

Ukuran polibeg sangat variatif. Mulai yang cuma sebesar jari jempol tangan (untuk wadah sosis; bibit tanaman yang masih sangat kecil), sampai yang segede gaban (untuk wadah bibit durian montong yang bahkan sudah berbuah).

Ketebalan plastik polibeg juga ada banyak macam, mulai yang tipisnya setipis kulit ari bawang, sampai yang setebal jaket kulit.

Adapun kualitas plastik polibag, ada tiga kelas. Kelas A, kelas AD dan kelas ST.
Kelas A merupakan yang terbaik, AD yang sedang dan ST yang paling rapuh, biasanya berasal dari plastik daur ulang.

Polibeg kelas A cirinya plastiknya lembut, ketebalan merata, permukaan mulus licin, berkilat, tidak ada bercak-bercak, liat, tidak bau sengak, dan harganya lebih mahal.

Polibeg dari plastik daur ulang cirinya : baunya sengak menyengat, jika diterawang tampak ketebalan tidak rata, bercak-bercak, rapuh, mudah robek, dan harganya murah.

Saat ini harga polibeg di kota Kisaran, Asahan, kualitas A Rp.23.000/kg, kualitas AD Rp.21.500/kg dan yang ST Rp.20.000/kg. Harga berlaku untuk pembelian 1 bal @25 kg.

Nah, sekarang, bagaimanakah kriteria memilih polibek yang baik untuk bibit yang akan kita semaikan?

Jenis polibeg yang baik ditentukan oleh jenis bibit tanaman yang akan disemaikan didalamnya. Misalkan untuk membuat baby sawit, atau bibit sawit kecil daun 3-4 helai, maka yang baik adalah polibeg  ukuran 12x17 cm, ketebalan 0,18 mm-0,20 mm, kelas ST. Baby sawit hanya butuh waktu 3,5 bulan sebelum dipindahkan ke polibeg yang lebih besar, seperti ukuran 30x35 cm atau 35x40 cm.

Ketebalan dan kelas polibag tak perlu yang bagus karena biasanya polibag kelas ST berdaya tahan 7-8 bulan.

Saat dipindahkan ke polibeg besar, pemilihan polibeg kembali berdasarkan kepada lamanya waktu bibit akan ditanam. Jika misalnya direncanakan bibit sawit itu akan ditanam pada umur 1 tahun atau lebih, maka pakailah polibeg kelas A, ukuran 35x40 cm. Jika pada umur antara 8-11 bulan, maka pilihan kelas AD dengan ukuran 30x35 cm adalah yang paling proporsional.

Itu tadi adalah polibeg untuk bibit tanaman berakar serabut. Bagaimana dengan polibeg untuk bibit tanaman berakar tunggang?

Kita ambil permisalan bibit karet alias para alias rambung. Bila direncanakan bibit karet akan ditanam saat payung satu atau payung dua, maka pakailah polibag kelas A ukuran 17x25 cm. Namun bila akan ditanam pada fase payung 3 atau lebih, maka polibag kelas A ukuran 17x30 adalah pilihan yang baik.

Pohon karet rawan tumbang terkena angin, terutama yang varietas GT. Karenanya, usahakan agar akar tunggangnya tidak sudah putus terlalu banyak saat ditanam ke lapangan. Putusnya akar tunggang terjadi karena akar sudah menembus polibeg bagian bawah.

Selain ukuran panjangnya atau tingginya, pemilihan polibeg juga harus memperhatikan ukuran lebarnya. Polibeg nantinya akan disusun rapat, sehingga jika ukuran lebar terlalu sempit, maka bibit tanaman akan tumbuh kurus menjulang tinggi, tak sedap dipandang mata, akibat ruang tumbuh yang terlalu sesak.

Polibeg itu pada dasarnya, semakin besar semakin baik. Tetapi harus juga diperhitungkan luasan lahan penangkaran bibit, serta pengangkutan.

Sebagai contoh, bibit sawit umur setahun dalam polibeg ukuran 35x40 cm (berat rerata 14 kg) hanya muat 425 batang jika diangkut dengan truk Colt Diesel roda enam standart  atau yang sejenis. Jika polibegnya ukuran 30x35 cm (berat rerata 7,5 kg), maka bisa dimuat sampai 800 batang. Untuk pengangkutan jarak jauh, selisih angka banyaknya muatan itu sudah sangat berpengaruh terhadap ongkos angkut perbatang.

***
Foto nyomot punya saranalestari.com