Minggu, 15 Desember 2013
Plus Minus Bertanam Gaharu
Sore itu, Bang Pilot yang tengah berjalan
celingukan mencari pohon pisang yang terserang jamur fusarium sp. di
sekitaran desa Peret Legit, bertemu dengan Arke di depan rumahnya. Arke
yang sedang aktif mencari kutu di kepala Markonah, istri keempatnya,
tiba-tiba berseru memanggil.
“Bang.., mampir sini. Saya ada sedikit pertanyaan yang penting. Tentang pertanian. Mau tanya-tanya soal tanaman gaharu”.
Bang Pilot, dengan senyumnya yang galau tetapi indah menawan, segera singgah.
“Emang ente mau tanya apa, Rab?”
Maka bertanyalah Arke dengan penuh antusias.
Tanya : Bang, apakah pohon gaharu itu ada?
Jawab : tidak ada.Yang ada adalah pohon penghasil gaharu. Selanjutnya kita sebut PPG.
-Jadi, gaharu itu apa?
-Gaharu adalah bagian batang kayu yang berubah
menjadi gubal atau karas. Gubal ini warnanya coklat kehitaman, kalau
dibakar baunya harum.
Gubal Gaharu
-Ada berapa jenis PPG?
-Ada 27 jenis atau spesies.
-Jenis apa yang terbaik?
-Untuk Indonesia, kami sarankan jenis aquilaria malaccensis.
-Mengapa pilih aquilaria malaccensis?
-Karena PPG jenis ini adalah tanaman endemik
Nusantara, dan gaharunya berharga mahal karena disukai masyarakat di
negara konsumen. Konsumen umumnya adalah masyarakat Timur Tengah, China
dan Korea. Gaharu dipergunakan sebagai pengharum ruangan, bahan obat dan
bahan kosmetik.
-Bagaimana membedakan jenis-jenis PPG?
-Belajarlah langsung di lapangan, dengan seorang
ahli gaharu yang jujur. Hampir semua jenis PPG itu sangat mirip secara
fisik satu sama lain. Dan di luar sana, ada banyak penjual bibit PPG
yang kurang jujur.
-Apa yang membuat batang pohon itu berubah menjadi gaharu?
-Jamur, atau cendawan, atau fungi atau fungus.
Umumnya jamur fusarium sp. Gaharu bisa terjadi secara alami, namun
sangat jarang. Sekarang gubal gaharu dipaksa terbentuk dengan cara
inokulasi, atau penyuntikan spora jamur fusarium sp. Batang pohon dibor,
lalu cairan inokulan diinfuskan. Satu batang pohon membutuhkan 3-5
liter cairan inokulan.
-Berapa harga inokulan itu?
-Antara rp.400.000-700.000/liter.
-Koq mahal amat? Kan cuma jamur?
-Tanya sama pembuat dan penjual inokulan itu.
-Jadi, satu pohon, untuk inokulasinya saja bisa
menghabiskan uang tiga jutaan? Kalau petani punya seratus pohon, bisa
habis berapa?
-Hitung saja sendiri. Ente kan jago kali-kali, tapi susah kalau diajak bagi-bagi.
(Arke nyengir…eh.., mewek).
-Berapa pula harga bibit PPG?
-Ada yang rp.2.500, ada yang rp.50.000 per pokok.
-Koq jauh banget selisihnya?
-Tanya sama pembuat dan penjual bibit pohon
penghasil gaharu itu. Misalnya sama mas Bain, yang tiap sore keliling
naik onthel jualan tiwul millenium tjap boelan poernama.
(ora nyambung pisan euy…).
-Selain gaharu, apa produk lain yang bisa dihasilkan?
-Kemedangan, abu gaharu dan kayu tetelan.
Kemedangan adalah karas gaharu yang setengah jadi, kalau dibakar baunya
agak harum. Abu gaharu adalah serpihan gergajian kayu dan tetelan
adalah kayu kecil-kecil hasil pemisahan gaharu dengan kayu. Abu dan
tetelan biasanya disuling untuk mendapatkan minyak gaharu.
Kamedangan
-Emang berapa harga gubal gaharu?
-Tidak ada harga pasaran yang jelas. Gaharu alami
ada yang dihargai rp.300 juta per kilogram. Gaharu hasil inokulan ada
yang bernilai 30 juta rupiah/kg. Ada juga yang cuma beberapa ratus ribu
saja.
Kemedangan atau medang biasanya bernilai antara
30.000, 200.000 atau 500.000 rupiah per kilogram. Dan abu atau tetelan
sekitar 3.000-15.000/kg. Tetapi umumnya di Indonesia, abu dan tetelan
PPG tidak laku, karena jarang ada pabrik penyulingan minyak gaharu. Yang
banyak itu, di Malaysia.
-Lho…lho…itu harga gaharunya koq bisa begitu?
Bedanya kayak rumah kumuh bapaknya Markonah berbanding dengan istana
presiden esbeye?
-Di dunia gaharu, ada banyak penipu. Baik penjual
mau pun pembeli. Klasifikasi atau grade-nya yang beragam dan tidak
jelas, pengetahuan petani yang minim dan kurangnya perhatian pemerintah
terhadap budidaya dan peredaran gaharu, membuat tidak adanya kepastian
harga. Di situlah para spekulan bermain.
-Ada yang bilang, PPG itu, kayunya saja laku seharga rp.50.000/kg. Gimana tuh?
-Itu yang bilang tukang jual bibit gaharu, kan?
Memangnya dia mau beli dengan harga segitu? Promosi mbok yang
wajar-wajar saja kenapa.
-Bagaimana solusinya, bila petani mau bertanam gaharu?
-Pertama, buat asosiasi dulu. Semacam perkumpulan
sesama petani gaharu. Lalu daftarkan ke dishutbun pemda setempat.
Selanjutnya minta pihak terkait untuk melakukan penyuluhan tentang
budidaya PPG. Sekalian minta solusi pengadaan inokulan dan pemasaran
gubal gaharu bila sudah menghasilkan kelak.
-Lha, kalau pemda tidak sanggup, sementara petani tidak punya uang untuk membeli inokulan, gimana?
-Ya tak usyah menanam gaharu, tanaman yang lain kan masih banyak.
-Apa inokulan itu tidak bisa dibuat sendiri?
-Pada dasarnya bisa. Hanya saja tentu perlu
pengetahuan dan penelitian yang mendalam. Membiakkan fusarium sp
bukanlah perkara sulit, hanya saja jarang ada insinyur dari pihak dinas
terkait yang menguasainya. Paling-paling mereka hanya akan
merekomendasikan untuk membeli di sana dan di sono.
***
Sejurus kemudian, keluar Markonah, yang terlihat
makin bohay dengan bibir dower hasil operasi plastik itu, membawa nampan
berisi dua cangkir kopi panas. Setelah meletakkan cangkir kopi,
Markonah berlalu dengan pantatnya yang megal-megol kayak kuda lumping.
***
Arke : Bang Pilot kan pinter, coba dong usahain bikin inokulan, lalu jual kepada petani dengan harga murah.
Bang Pilot : Ide dasarnya sudah ada, yaitu
membiakkan fusarium sp di kaldu kentang dengan glukosa 2%. Beberapa
formula lain juga sudah disusun. Masalahnya, saya tidak punya PPG siap
inokulasi untuk media uji coba.
-O ya Bang, berapa lama tenggang waktu antara inokulasi dengan timbulnya gejala berhasil atau gagal?
-Sekitar 60 hari. Bila kayu yang disuntik terlihat
berwarna kuning kecoklatan, dan dibakar berbau agak harum, maka hampir
pasti inokulasi berhasil.
-Kan ada teman kompasianer Bang Pilot, yakni Tunas Gaharu Magelang. Diajak kerjasama tuh, gimana?
-Sudah, tapi beliau masih malu-malu.
-Saya kepingin banget membudidayakan gaharu,
tapi gak yakin kelak mampu membeli inokulan. Emang berapa tahun usia
tanam PPG sudah bisa diinokulasi?
-Umur lima tahun. Atau saat diameter batang bawah
sudah 15 cm. Panen tebang umur delapan tahun. Sebaiknya umur sepuluh
tahun. Satu pohon bisa menghasilkan gubal gaharu antara 0,5 sd. 10 kg.
Kamedangan antara 3 sd. 15 kg. Kalau kayunya, bisa puluhan kg.
-Apakah harus ada izin untuk membudidayakan PPG?
-Ya, ada. Dan gratis. Urus di dishutbun setempat. Buat secara kolegial saja, atas nama asosiasi.
-Itu…Bang…, engg… koq ada pedagang gaharu yang ditangkap polisi?
-Pedagang gaharu wajib memiliki izin perniagaan
gaharu. Mengurusnya di dinas kehutanan provinsi setempat. Kalau tak
punya tapi nekad membeli gaharu, ya bisa ditangkap pulisi.
-Eh, anu…halah…jadi ingat sama si anu…, berapa ya… jarak tanam PPG?
-Normalnya 5×6 meter. Tapi kalau mau, bisa
dirapatkan sampai 3×3 meter. PPG bukanlah tanaman yang diharapkan balok
kayunya, seperti jati, jabon, atau sengon.
-Susah tidak membudidayakan PPG? Banyak penyakitnya tidak?
-Budidaya PPG tidak sulit, sama saja seperti
budidaya tanaman kayu hutan lainnya. Penyakit juga relatif tidak ada.
Paling juga penyakit kutu putih, yang menyerang tanaman muda saat musim
kemarau. Bisa dikendalikan dengan pestisida natural atau kimia.
-Eh.., Bang. itu kopinya diminum, silahkan.
-Koq gak dari tadi…, ni tenggorokan sampai kering nyerocos melulu.
-Maaf Bang …, hehehe, sampai kelupaan.
(sruput…sruput…, kopi anget…nyem…nyem…alhamdulillah….).
***
-Apakah PPG bisa ditumpang sarikan dengan tanaman lain?
-Bisa, terutama dengan singkong gajah dan pisang barangan.
-Lho, koq singkong dan pisang?
-Singkong dan pisang adalah dua jenis tanaman
pengundang jamur fusarium sp. Jadi, diharapkan proses inokulasi alami
makin meningkat kemungkinannya. Selain pisang dan singkong, semut yang
membuat lubang di batang PPG juga terbukti menjadi serangga pencetus
terbentuknya gubal secara alami. Sebagian orang melubangi PPG-nya, lalu
memberikan cairan gula. Ini untuk mengundang semut. Ukuran mata bor
sekitar 3-5 mm dan dalamnya sepertiga diameter batang. Susunan lubang
berbentuk spiral. Jarak vertikal dan jarak horisontal 10 cm. Ada juga
yang menaruh jus tomat ke dalam lubang itu.
-Hasilnya gimana?
-Sebagian berhasil, tapi banyak yang gagal.
-Mengapa banyak yang gagal?
-Fusarium sp yang berhasil diundang tak cukup
jumlahnya untuk menginfeksi PPG. Bila PPG terinfeksi fusarium sp, maka
ia akan melawan dengan cara mengeluarkan resin sebagai antibody. Resin
inilah yang membawa sifat bau harum. Bila resin menang, maka fusarium
akan musnah, dan gubal yang sudah terbentuk bisa mengkerut lalu hilang,
kembali menjadi kayu biasa yang tak berharga. PPG termasuk tanaman kayu
yang sifat pemulihannya cukup bagus. Jadi, dibutuhkan jamur fusarium
dalam jumlah yang cukup. Kalau pun berlebihan, maka PPG akan cepat mati
sebelum gubal terbentuk. Lebih cilaka lagi, kalau saat selesai
diinokulasi, datang serangan ulat daun. PPG mungkin akan langsung
innalillahi. Bisa-bisa usaha lima enam tahun jadi sia-sia belaka.
-Walahadlah…., jadi gimana proses inokulasi yang benar itu?
-Inokulasi sebaiknya bertahap. Dilakukan dua tahap
dengan selang waktu lima sampai enam bulan. Jika pada inokulasi awal
daun gugur sebagian lalu pulih kembali, maka berarti sudah bisa
dilakukan inokulasi tahap dua.
-Wah, rumit juga ya, budidaya gaharu ini.
-Tidak ada yang sulit kalau mau belajar. Makanya
ente Rab, kalau buka internet itu jangan cuman baca dan komeng masalah
pemerkosaan saja. Atau lempar sempak bau kesana kemari. Salah-salah bisa
kena somasi sama para petinggi Kompasiana lagi…… Jadi, kalau mau pinter
soal pertanian, baca juga tulisan Bang Pilot yang bermanfaat dan
bergizi ini. Dijamin maknyuss deh. Asli crottnya……
-Engg…iya Bang. Eh, kalau soal singkong gajah, gimana tuh?
-Kalau mau membahas singkong gajah, kayaknya kopi saja gak cukup nih. Kita butuh goreng pisang…..
Hahahaha……….
***
sumber foto: 1, 2
READY STOCK : KECAMBAH BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT KECAMBAH AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
BIJI BIBIT JATI SUPER RP.125.000/KG. ISI RIBUAN BENIH.
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.
READY STOCK : KECAMBAH BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT KECAMBAH AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
BIJI BIBIT JATI SUPER RP.125.000/KG. ISI RIBUAN BENIH.
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.
Cara Mengendalikan Gulma di Kebun Sawit dengan Herbisida
Tadi siang ada sohib kompasianer yang mengirim sms,
menanyakan masalah pengendalian gulma di perkebunan sawit miliknya.
Saya kemudian menjawab semampunya. Namun, tentu saja jawaban saya via
sms itu tak akan cukup untuk memberikan pencerahan yang memadai
sehubungan pertanyaan tadi. Karena itu, di sini saya coba tuliskan
sedikit tentang cara menangani rumput dan/atau gulma yang mengganggu
tanaman kelapa sawit, terutama kebun sawit milik rakyat.
Dalam dunia pertanian, cara paling cepat dan
murah untuk mengendalikan gulma adalah dengan menyemprotnya menggunakan
air yang dicampur herbisida. Untuk gulma dengan tinggi di bawah
pinggang, maka rata-rata menghabiskan herbisida 100 ml untuk luasan satu
rante atau 400 meter persegi. Herbisida 100 ml tadi dilarutkan pada
15-16 liter air, atau satu ukuran tangki knapsack sprayer. Biaya
herbisida rp.6.000 rupiah dan upah menyemprot satu tangki rp.5.000.
Terbilang 11.000 rupiah dana yang dihabiskan untuk mengendalikan gulma
pada tanaman kelapa sawit seluas satu rante. Bandingkan dengan metode
lain, semisal membabat lalu menggaruknya. Paling tidak akan menghabiskan
biaya rp.50.000, karena pekerjaan itu membutuhkan 1 HK (hari kerja).
Betapa pun menguntungkannya, herbisida tetaplah
bahan kimia yang mengandung unsur-unsur yang bersifat meracuni alam.
Karenanya, penggunaan herbisida harus dikendalikan, dan sedapat mungkin
dihemat. Beberapa cara untuk menghemat pemakaian herbisida telah kami
tulis sebelumnya, dan ada pula beberapa lagi yang ditulis oleh
kompasianer Ir.H.Dian Kusumanto.
Secara asas kerja, herbisida dibagi menjadi
dua. Herbisida yang bersifat sistemik dan yang bersifat racun kontak.
Herbisida sistemik maksudnya, bila larutan yang disemprotkan mengenai
sebagian daun atau batang gulma, maka keseluruhan gulma itu akan mati.
Ini disebabkan karena racun yang terserap oleh rumput, ditranslokasikan
ke seluruh bagian batang tubuh rumput.
Herbisida sistemik dibagi dua lagi, purna
tumbuh dan universal. Herbisida sistemik purna tumbuh hanya membunuh
rumput yang sudah hidup, sedangkan herbisida sistemik universal membunuh
rumput yang sudah tumbuh berikut biji, rimpang atau sporanya. Sebagai
contoh herbisida sistemik universal adalah Roundup, atau Rambo, atau
Basmilang (mengandung glifosat) yang dicampur Ally 20WP.
Herbisida non sistemik, atau herbisida racun
kontak, maksudnya adalah herbisida yang hanya mematikan bagian yang
terkena cairan semprotan. Racun yang mengenai bagian tubuh rumput, tidak
ditranslokasikan ke bagian lain. Biasanya herbisida jenis ini
mengandung paraquat. Contohnya Herbatop dan Gramoxone. Herbisida jenis
ini membutuhkan semprotan volume tinggi agar hasil bisa merata.
Lalu, bagaimana cara terbaik mengendalikan gulma pada kebun kepala sawit?
Jawabannya adalah : untuk piringan tumbuh
tanaman kelapa sawit, gunakanlah herbisida non sistemik, semisal
Herbatop atau Gramoxone. Bisa juga merk lainnya. Herbisida jenis ini
dipercaya tidak terlalu merusak perakaran tanaman kelapa sawit. Untuk
herbatop, saya dulu mencampur 60 ml ke dalam satu tangki semprot.
Utamanya saat hari sedang panas terik. Sedangkan untuk gawangan atau
lorong tanaman kelapa sawit, gunakan herbisida sistemik sebanyak 100
ml per 15 liter air. Untuk memperkuat efek bahan aktif, bisa
ditambahkan satu genggam pupuk urea yang dilarutkan pada air satu tangki
semprot, lalu diaplikasikan ke lapangan secara merata.
Ada pun Ally dapat dicampurkan pada larutan herbisida untuk mengendalikan gulma di lahan yang baru dibuka, atau lahan rawa.
Hal lain yang patut diperhatikan ialah, jangan menyemprot gulma saat cuaca sedang mendung
atau saat angin bertiup keras. Jangan makan, minum atau merokok saat
masih bekerja. Saat menyemprot, belakangi arah datangnya angin. Gunakan
masker, sarung tangan, sepatu boot dan perlengkapan pengaman lainnya.
Jangan lupa bawa tang dan jarum pentol. Kedua barang terakhir ini sangat
berguna saat nozzle knapsack sprayer anda tersumbat kotoran. Mandilah
dengan menggunakan sabun yang cukup begitu pekerjaan selesai atau saat
akan makan/minum.
Bila anda pekerja yang sering berhubungan
dengan pestisida atau herbisida, sering-seringlah menkonsumsi susu
segar. Kalau tidak ada, bolehlah meminum susu kental manis satu kaleng,
tanpa campuran lain. Kalau tidak ada juga, perbanyaklan memakan buah
segar yang bebas dari perlakuan racun, semisal jambu biji. Kalau itu pun
tidak ada juga, perbanyaklah lagi berdoa minta kesehatan dan panjang
umur.
READY STOCK : KECAMBAH BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT KECAMBAH AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
BIJI BIBIT JATI SUPER RP.125.000/KG. ISI RIBUAN BENIH.
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.
READY STOCK : KECAMBAH BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT KECAMBAH AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
BIJI BIBIT JATI SUPER RP.125.000/KG. ISI RIBUAN BENIH.
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.
Senin, 09 Desember 2013
Jual Bibit Jati Super, Jati Putih dan Bibit Jabon Putih
Jual Biji Jati Super di Sumatera Utara
Saya Mhd.Isnaini alias Bang Pilot, staf pemasaran UKM Tani
Muda, alamat di Dusun II Pulau Besar, Desa Petatal Kecamatan Talawi, Kabupaten
Batu Bara, Sumut, Jalan Lintas Medan-Kisaran km 129, depan Puskesmas. Hp.0813
7000 8997.
Kami memproduksi dan menjual bibit jati super (jati merah)
berupa butir biji siap semai.
Harga perkilogram rp.125.000,-
Satu butir berisi 3-4 biji benih.
Isi ribuan benih.
Harga belum termasuk ongkos kirim.
Cara menyemai disertakan.
Pengalaman 14 tahun.
Binaan Distan setempat.
Bisa kirim ke seluruh Nusantara.
Restan pengiriman 5 persen.
Lebih disukai bila pembeli datang langsung (COD).
Yang serius saja.
Katalog produk dapat dilihat di blog saya :
Mengenai saya lihat di :
***
Jual Biji Jati Putih di Sumatera Utara
Saya Mhd.Isnaini alias Bang Pilot, staf pemasaran UKM Tani
Muda, alamat di Dusun II Pulau Besar, Desa Petatal Kecamatan Talawi, Kabupaten
Batu Bara, Sumut, Jalan Lintas Medan-Kisaran km 129, depan Puskesmas. Hp.0813
7000 8997.
Kami memproduksi dan menjual bibit jati putih berupa butir
buah/biji
Harga perkilogram rp.50.000,- Isi sekitar 120 buah/butir.
Satu butir berisi 3-4 biji benih.
Harga belum termasuk ongkos kirim.
Cara menyemai disertakan.
Pengalaman 14 tahun.
Binaan Distan setempat.
Bisa kirim ke seluruh Nusantara.
Restan pengiriman 5 persen.
Lebih disukai bila pembeli datang langsung (COD).
Yang serius saja.
Katalog produk dapat dilihat di blog saya :
www.bibitsawitkaret.blogspot.com
Mengenai saya lihat di :
www.kompasiana.com/bangpilot
***
Singkong Gajah Berpotensi Raup Laba Puluhan Juta Rupiah
Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/12/09/singkong-gajah-berpotensi-raup-laba-puluhan-juta-rupiah (Tunas Gaharu Magelang)
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani,
terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal
makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan
Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
Dibaca:
16
Komentar: 2
1
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga
memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi
keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang,
cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi
tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani,
terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal
makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan
Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
Dibaca:
16
Komentar: 2
1
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga
memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi
keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang,
cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi
tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani,
terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal
makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan
Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering
melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan
ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak
bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan
bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya
ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi
salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak.
Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan
ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan
akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi
mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku
singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini
terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan
makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG).
Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah
sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan
SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong
juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk
bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.
Singkong Gajah
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga
memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi
keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang,
cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi
tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian
bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di
Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman
perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter
singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya
sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo
atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan
pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan
lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen
sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan
panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya
sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari
50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total
Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200.
Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan
dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak
dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang
sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi
juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa
jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan
bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan
yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada
beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
SINGKONG GAJAH BERPOTENSI RAUP LABA PULUHAN JUTA RUPIAH
REP | 09 December 2013 | 20:29
Panenan Singkong Gajah, rata-rata 18 KG per pohon, usia 7 bulan
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering
melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan
ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak
bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan
bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya
ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi
salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak.
Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan
ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan
akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi
mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku
singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini
terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan
makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG).
Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah
sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan
SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong
juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk
bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.
Singkong Gajah
Pohon Singkong Gajah usia tanam 2 bulan, pertumbuhan cepat
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian
bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di
Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman
perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter
singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya
sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo
atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan
pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan
lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen
sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan
panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya
sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari
50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total
Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200.
Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan
dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak
dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang
sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi
juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa
jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan
bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan
yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada
beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.
Direbus, enak nan gurih nuansa rasa keju
Beberapa produk makanan ringan berbahan Singkong Gajah, enak-gurih dan sehat
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
SINGKONG GAJAH BERPOTENSI RAUP LABA PULUHAN JUTA RUPIAH
REP | 09 December 2013 | 20:29
Panenan Singkong Gajah, rata-rata 18 KG per pohon, usia 7 bulan
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering
melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan
ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak
bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan
bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya
ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi
salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak.
Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan
ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan
akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi
mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku
singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini
terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan
makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG).
Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah
sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan
SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong
juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk
bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.
Singkong Gajah
Pohon Singkong Gajah usia tanam 2 bulan, pertumbuhan cepat
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian
bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di
Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman
perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter
singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya
sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo
atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan
pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan
lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen
sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan
panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya
sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari
50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total
Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200.
Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan
dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak
dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang
sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi
juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa
jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan
bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan
yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada
beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.
Direbus, enak nan gurih nuansa rasa keju
Beberapa produk makanan ringan berbahan Singkong Gajah, enak-gurih dan sehat
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.
Langganan:
Postingan (Atom)
















