Senin, 09 Desember 2013

Jual Bibit Jati Super, Jati Putih dan Bibit Jabon Putih



Jual Biji Jati Super di Sumatera Utara
Saya Mhd.Isnaini alias Bang Pilot, staf pemasaran UKM Tani Muda, alamat di Dusun II Pulau Besar, Desa Petatal Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumut, Jalan Lintas Medan-Kisaran km 129, depan Puskesmas. Hp.0813 7000 8997.
Kami memproduksi dan menjual bibit jati super (jati merah) berupa butir biji siap semai.
Harga perkilogram rp.125.000,-
Satu butir berisi 3-4 biji benih.
Isi ribuan benih.
Harga belum termasuk ongkos kirim.
Cara menyemai disertakan.
Pengalaman 14 tahun.
Binaan Distan setempat.

Bisa kirim ke seluruh Nusantara.
Restan pengiriman 5 persen.
Lebih disukai bila pembeli datang langsung (COD).
Yang serius saja.
Katalog produk dapat dilihat di blog saya :
Mengenai saya lihat di :





















***



Jual Biji Jati Putih di Sumatera Utara
Saya Mhd.Isnaini alias Bang Pilot, staf pemasaran UKM Tani Muda, alamat di Dusun II Pulau Besar, Desa Petatal Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumut, Jalan Lintas Medan-Kisaran km 129, depan Puskesmas. Hp.0813 7000 8997.
Kami memproduksi dan menjual bibit jati putih berupa butir buah/biji
Harga perkilogram rp.50.000,-  Isi sekitar 120 buah/butir.
Satu butir berisi 3-4 biji benih.
Harga belum termasuk ongkos kirim.
Cara menyemai disertakan.
Pengalaman 14 tahun.
Binaan Distan setempat.

Bisa kirim ke seluruh Nusantara.
Restan pengiriman 5 persen.
Lebih disukai bila pembeli datang langsung (COD).
Yang serius saja.
Katalog produk dapat dilihat di blog saya :
www.bibitsawitkaret.blogspot.com
Mengenai saya lihat di :
www.kompasiana.com/bangpilot



***



Singkong Gajah Berpotensi Raup Laba Puluhan Juta Rupiah

Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/12/09/singkong-gajah-berpotensi-raup-laba-puluhan-juta-rupiah   (Tunas Gaharu Magelang)




Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak. Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG). Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.

Singkong Gajah
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari 50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200. Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.


Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani, terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.

SINGKONG GAJAH BERPOTENSI RAUP LABA PULUHAN JUTA RUPIAH

REP | 09 December 2013 | 20:29 Dibaca: 16   Komentar: 2   1
1386491250305789968
Panenan Singkong Gajah, rata-rata 18 KG per pohon, usia 7 bulan
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak. Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG). Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.
Singkong Gajah
1386517733260269124
Pohon Singkong Gajah usia tanam 2 bulan, pertumbuhan cepat
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari 50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200. Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.
13865953261548956318
Direbus, enak nan gurih nuansa rasa keju
13865175362096825683
Beberapa produk makanan ringan berbahan Singkong Gajah, enak-gurih dan sehat
Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani, terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.

SINGKONG GAJAH BERPOTENSI RAUP LABA PULUHAN JUTA RUPIAH

REP | 09 December 2013 | 20:29 Dibaca: 16   Komentar: 2   1
1386491250305789968
Panenan Singkong Gajah, rata-rata 18 KG per pohon, usia 7 bulan
Masih ingat sebuah lagu Singkong dan Keju? Cukup terkenal dan bisa dihafal oleh sebagian besar anak muda pada era itu (tahun 80 an). Sebuah pembandingan antara Singkong dan keju. Singkong identik dengan desa, udik, terbelakang nan miskin. Keju simbol anak rumahan gedongan, modern, kota, terpelajar dan tentu kaya.
Teman – teman sekitaran Jogja juga sering melontarkan ungkapan/gurauan : “ Woooo,,,,teloooo !!!….” Sebuah ungkapan ejekan atau gurauan atau bahkan makian bahwa lawan bicaranya tidak bermutu – tidak berkualitas.
Saat ini, rasanya lagu dan ungkapan atau anggapan bahwa SINGKONG adalah tidak berkulaitas, rendahan dan selayaknya ditinggalkan sudah tidak berlaku lagi.
SINGKONG belakangan ini menjadi salah satu komoditas hasil pertanian yang diburu oleh banyak pihak. Banyak pihak melakukan budidaya secara besar-besaran dengan luasan lahan ratusan hingga ribuan hektar. Apakah kondisi ini akan menjadikan komoditas singkong ini over produksi dan membuat harga jatuh? Jawabannya : Tidak. Kebutuhan akan singkong sangat tinggi, dari hari ke hari justru semakin tinggi mengingat ada banyak produk yang bisa dihasilkan dari bahan baku singkong.
Pintu pengolahan paska panen dari SINGKONG ini terbuka banyak sektor. Mulai dari pengolahan singkong sebagai bahan makanan ( ada seabrek jenis makanan yang bahan bakunya adalah SINGKONG). Singkong juga masuk ranah pabrikan menjadi bahan tepung bahkan sudah sejajar dengan produk gandum setelah ditemukan teknik pengolahan SINGKONG menjadi MOCAF (Modified Cassava Flour). Singkong juga menjadi salah satu bahan sumber energy yang direkomendasikan untuk bisa mendukung kebutuhan energi nasional bahkan dunia.
Singkong Gajah
1386517733260269124
Pohon Singkong Gajah usia tanam 2 bulan, pertumbuhan cepat
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan, singkong Gajah ini memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa cita rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.
Paguyuban TUNAS MERAPI, sebuah media kepedulian bagi para muda dan mudi lereng Merapi melakukan aksi konservasi di Merapi, 2 tahun ini juga melakukan budidaya singkong jenis SIngkong Gajah. Panenan perdana kami, lahan seluas 1 hektar mendapatkan total jumlah singkong 86 ton. Penanaman perdana ini merupakan ajang bagi kami untuk mempelajari karakter singkong jenis ini. Dengan perawatan yang masih belum sempurna, hasilnya sudah jauh jika dibandingkan dengan jenis singkong lokal (jenis Kaporo atau Klentheng) yang per ha nya hanya berkisar 10 – 30 an ton.
Akhir bulan September kemarin kami melakukan pemanenan tanaman tahap kedua. Hasilnya melonjak drastis, dengan luasan lahan yang sama ( 1 hektar), kami mendapatkan total jumlah panen sebanyak 137 ton. Sungguh menjadi sebuah kebanggaan bagi kami, petani Singkong di Lereng Merapi. Dengan panenan 137 ton ini kami memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal biaya sewa lahan, pengadaan bibit, pupuk, tenaga perawatan tidak lebih dari 50 juta rupiah, sementara hasil panenan kami total Rp 164 juta dengan harga jual singkong segar per kg Rp 1.200. Keuntungan bersih kami lebih dari 100 juta rupiah. Waktu yang diperlukan dari persiapan lahan hingga panenan selama 9 bulan.
Selain berpotensi menghasilkan panenan lebih banyak dari pada singkong lokal, Singkong Gajah juga mempunyai cita rasa yang sangat enak, gurih nan lembut bernuansakan rasa mentega. Tunas Merapi juga sudah mulai melakukan pengolahan panenan singkong menjadi beberapa jenis makanan ringan. Menurut beberapa pihak, makanan ringan dengan bahan baku Singkong Gajah ini rasanya lebih enak gurih.
Budidaya Sing Gajah selain menghasilkan panenan yang tinggi juga bisa memungkinkan membuka lapangan pekerjaan baru. Ada beberapa kelompok ibu-ibu yang kemudian melakukan produksi makanan ringan berbahan baku singkong.
13865953261548956318
Direbus, enak nan gurih nuansa rasa keju
13865175362096825683
Beberapa produk makanan ringan berbahan Singkong Gajah, enak-gurih dan sehat
Budidaya Singkong Gajah sanggup meningkatkan perekonomian petani, terlebih dengan adanya proses pengolahan menjadi hasil jadi semisal makanan, gaplek, tepung, makanan ternak bahkan bisa diolah menjadi Bahan Bakar Nabati.
Salam Hijau nan Sejahtera dari Lereng Merapi.

Jumat, 06 Desember 2013

Mengapa Petani Kita Masih Miskin?



Mengapa Petani Kita Masih Miskin?
oleh : Muhammad Isnaini alias Bang Pilot. 

Salah satu penyebab petani Indonesia masih miskin adalah kurangnya kemauan petani meninggalkan tanaman tradisionalnya, untuk kemudian beralih kepada komoditi yang jauh lebih bernilai ekonomi.

Petani kita umumnya hanya mau menanam varian yang sudah dikuasainya secara turun temurun. Tak sedikit pula yang menanam suatu jenis tanaman karena terpengaruh teman-teman sesama petaninya yang fanatis terhadap suatu varian tertentu.

Selain itu, petani kita kurang kemauan untuk belajar mengenal dan membudidayakan varian baru. “Sudah terbiasa’’, itulah alasan yang selalu diutarakan jika petani ditanya apa sebabnya ia tak mau beralih ke tanaman lain yang jauh lebih menjanjikan.

Kita ambil contoh petani yang menanam satu hektar kelapa sawit. Dalam satu bulan ia akan mengantongi rupiah rerata sekira tiga juta rupiah, dengan catatan harga sawit rp.1.500/kg dan produksi stag pada angka 2 ton/ha/bulan. Kenyataannya, angka-angka di atas sulit untuk dicapai. Menurut wawancara penulis dengan beberapa petani sawit di Sumatera Utara, produksi rerata TBS tanaman kelapa sawit adalah 1,5 ton/ha/bulan dan harga rerata adalah rp.1.200/kg. Jadi, hasilnya adalah : rp.1.800.000/ha/bulan.

Mari kita bandingkan dengan tanaman singkong gajah, misalnya. Satu hektar lahan ditanami 10.000 pokok singkong gajah. Satu pokok menghasilkan minimal 10 kg ubi segar, pada usia 10 bulan. Harga rerata ubi segar ditingkat petani (Sumut) selama 2013 adalah rp.650/kg. Hasil menanam singkong gajah pada lahan satu hektar selama 10 bulan menjadi : 10.000x10x650= 65.000.000/ha/10 bulan. Bandingkan dengan hasil sawit yang cuma rp.18.000.000/ha/10 bulan.

Itu belum dihitung kerugian saat sawit belum berbuah, yakni saat mulai ditanam sampai umur 3 tahun. Otomatis selama 3 tahun itu, petani tidak punya penghasilan, bila penanaman dilakukan secara monokultur. Hal yang tidak dikenal bila petani menanam ketela pohon varian singkong, terutama singkong gajah.


Karena itu, sudah saatnya petani kita beralih kepada komoditi yang lebih menguntungkan. Terutama bagi petani yang memiliki lahan kurang dari 2 hektar, dan lahannya bukan rawa gambut.

Untuk petani yang hanya memiliki lahan gambut, maka penanaman jabon adalah pilihan terbaik. Sementara itu, petani yang lahannya termasuk lahan kritis, kering, berpasir, tandus atau berbatu, disarankan untuk menanam aren. Aren dapat dipadukan dengan tanaman sela lainnya. Yang paling sederhana adalah dengan tanaman rumput pakan ternak sapi.

Tadi siang penulis mewawancarai Andianto, seorang penyadap aren di desa Kampung Banjar, Simalungun, Sumut. Ia mengatakan, dari hanya menyadap 2 pohon aren selama 3 bulan, ia menghasilkan uang 4 juta rupiah. Bagaimana bila ia menyadap 20 pohon aren, atau 40?. Silahkan hitung sendiri hasilnya.

Sebagai catatan, satu hektar lahan bisa ditempati 277 pokok aren.

 READY STOCK : BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT KECAMBAH AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI. 

Cara Membuat Sendiri Inokulan Gaharu

oleh  : Muhammad Isnaini (Bang Pilot).
Tulisan ini masih rintisan, dalam penelitian dan pengembangan.
Semua pihak dipersilahkan untuk mengujicobanya, lalu memberi masukan.

Tanaman gaharu adalah tanaman termahal di dunia. Satu pohon bisa menghasilkan uang sampai dengan 250 juta rupiah.
Harga gubal (gaharu) kualitas terbaik di pasaran dunia adalah Rp.50 juta per kilogram. Harga kualitas terendahnya Rp.5 juta rupiah. Satu pohon bisa menghasilkan gubal sampai dengan 5 kg. Selain gubal, hasil sampingan dari pohon gaharu adalah kamedangan dan abu gaharu.
(Hati-hati dengan pembeli atau investor yang merangkap penipu).
Gaharu dapat diinokulasi pada umur 3 tahun, dan ditebang panen pada umur 5-6 tahun.
Namun yang terbaik adalah inokulasi dilakukan pada saat umur tanaman gaharu sudah 5 tahun, atau berdiameter minimal 15 cm.  Masa inokulasi sebiknya 3 tahun, agar diperoleh gubal dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang sudah baik atau grade AB. 
Inokulasi buatan diperlukan, agar dalam batang pohon gaharu terbentuk gubal. Tanpa proses inokulasi, gubal bisa juga terbentuk, tetapi kemungkinannya sangat kecil.
Inokulan yang sudah jadi harganya mahal, sekitar 500 rb-800 rb/liter. Padahal tehnologi pembuatannya sangat sederhana. Dasarnya adalah pembiakan jamur Fusarium sp.
Sistim inokulasi dini, bisa dilakukan dengan sistim lubang kecil, yakni batang pohon dibor dengan bor listrik. Diameter mata bor 3 mm.Lubang dimulai dari 20 cm di atas tanah. Bentuk barisan lubang melingkar spiral ke atas. Jarak vertikal 10 cm, jarak horizontal 10 cm. Kedalaman 1/3 diameter batang. Suci hamakan lubang dengan cotton bud yang diberi alkohol 70%. Alkohol dapat dibeli di apotik. Kemudian, ke dalam lubang ditusukkan bambu inokulan yang sudah disiapkan.
Cara membuat inokulan
1.Cari eceng gondok yang terserang Fusarium sp. Ini gambarnya :
13859777801049872405
eceng gondok terserang fusarium
2.Cincang halus.
3.Cari jahe yang terserang Fusarium sp. Cari di kebun jahe, jangan di pasar. Cirinya, daun jahe menguning lalu mati, jahe mengering lalu mengkisut, tetapi tidak berbau busuk. Kalau bau, penyebabnya bukan Fusarium sp. Ini gambarnya :
13859778781523892494
Jahe terkena fusarium sp.
4.Parut jahe.
5.Parut kentang segar 1 kg.
6.Campurkan semua bahan, aduk merata.
7.Letakkan di atas talam yang dialasi koran bekas. Ratakan.
8.Taruh di tempat terbuka, tetapi beratap. Jangan kena hujan.
9.Setiap tiga hari, semprot sedikit dengan air kelapa tua yang sudah dibiarkan sehari.
10.Setelah 14 hari, aduk bahan dengan air mineral botolan seliter.
11.Masukkan tusuk gigi kedalammnya, biarkan 2 hari.
12.Angkat tusuk gigi, bersihkan dengan kuas, kering anginkan.
13.Simpan tusuk gigi dalam plastik kedap udara.
14.Inokulan bambu ( tusuk gigi ) sudah siap pakai

READY STOCK :
BIBIT AREN UMUR 16 BULAN, HARGA RP.10.000/BATANG, TINGGI 100 CM.
BIBIT AREN UMUR 10 BULAN TINGGI 60 CM HARGA RP.6.000/BATANG
BIBIT AREN RP. 4.000/POKOK, TINGGI 40 CM (UMUR 6 BULAN) .
KECAMBAH BIBIT AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.
BIJI AREN UNTUK BIBIT RP.600/BUTIR. 
HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI

Selasa, 03 Desember 2013

BUDI DAYA TANAMAN KARET



BUDI DAYA TANAMAN KARET
 Sumber : www.disbun.jabarprov.go.id

I.      PENDAHULUAN

        A.    Latar Belakang

Karet mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat indonesia, yaitu:
-             Salah satu komoditi penghasil devisa negara.
-             Tempat persediaanya lapangan kerja bagi penduduk.
-             Sumber penghasilan bagi petani karet
         B.    Syarat-syarat Tumbuh
       1.    Tanah
-            Tanah harus gembur
-            Kedalaman antara 1-2 meter
-            Tidak bercadas
-            PH tanah 3,5 – 7,0
-            Ketinggian tempat anatara 0 – 400 meter, paling baik pada ketinggian 0 – 200 meter, setiap kenaikan 200 meter matang sedap terlambat 6 bulan.
       2.     Iklim
-            Curah hujan minimum 1.500 mm pertahun, jumlah hari hujan 100 – 150 hari, curah hujan optimum 2.500 – 4.000 mm.
-            Hujan selain bermanfaat bagi pertumbuhan karet, ada hubungannya dengan pemungutan hasil, terutama jumlah hari hujan sering turun pada pagi hari
-            Unsur angin berpengaruh terhadap ;
-            Kerusakan tanaman akibat angin kencang,
-            Kelembaban sekitar tanaman,
-            Produksi akan berkurang.

II.      PERSIAPAN LAHAN

A.            Pengolahan Lahan.

1.       Penebangan dan pembakaran pohon yang ada pada lahan.
2.       Penyacaran lahan dari rumput yang ada.
3.        Pembajakan dengan traktor atau penggarpuan/pencangkulan dilakukan 3 kali, dengan tenggang waktu 1 bula, setelah pembajakan ke 3 lahan dibiarkan 2 minggu baru digaru.

         B.       Pencegahan Erosi

1.             Pembuatan teras, baik teras individu maupun teras bersambung di sesuaikan dengan kemiringan lahan.
2.             Pembuatan parit dan rorak, parit dibuat sejajar dengan lereng,saluran drainase memotong lereng dan rorak dibuat diantara barisan.
3.             Pengajiran, untuk menentukan letak tanaman dan meluruskan dalam barisan dengan cara sebagai berikut :
-     Tentukan arah Timur-Barat (TB) atau  Utara-Selatan (US).
-     Ukur pada TB jarak 6 meter atau 7 meter  dan 3 meter dari arah US.
4.    Penanaman penutup tanah, kegunaaanya : melindungi tanah dari sinar matahari langsung, erosi,  menekan pertumbuhan gulma, dan sebagai media hidup cacing.



III.    PENANAMAN

1.              Pembuatan lubang tanam dan pengajiran kedua.
2.              Jarak tanam untuk tanah ringan 45X45X30 Cm, untuk tanah berat 60 X 60 X 40 Cm.
3.              Lubang dibiarkan satu bulan atau lebih.
4.              Jenis penutup tanah; Puecaria Javanica, Colopogonium moconoides dan centrosema fubercens,penanaman dapat diatur atau ditugal setelah tanah diolah dan di bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan perbandingan 1 : 5 : 4 antara Pueraria Javanoica : Colopoganium moconoides dan cetrosema fubercens
5.         Penanaman ; bibit ditanam pada lubang tanah yang telah dsiberi tanda dan ditekan sehingga leher akan tetap sejajar dengan permukaan tanah, tanah sekeliling bibit diinjak-injak sampai padat sehingga bibit tidak goyang, untuk stump mata tidur mata menghadap ke sekatan atau di sesuaikan dengan arah angin.

III.             PEMELIHARAAN

          1.      Penyulaman
-            Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.
-            Tanaman yang mati segera diganti.
-            Klon tanaman  untuk penyulaman harus sama.
-            Penyulaman dilakukan sampai unsur 2 tahun.
-            Penyulaman setelah itu dapat berkurang atau terlambat pertumbuhannya.
         2.       Pemotongan Tunas Palsu
Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.
          3.      Merangsang Percabangan
Bila    tanaman   2 – 3 tahun    dengan tinggi 3,5 meter  belum  mempunyai    cabang    perlu  diadakan perangsangan  dengan cara :
-                 Pengeringan batang (ring out)
-                 Pembungkusan pucuk daun (leaf felding)
-                 Penanggalan (tapping)
          4.      Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar disesuaikan dengan lingkaran tajuk.
                                                 Umur
(Bulan)
D o s i s      (gram/pohon)
Urea
Rock Pospat
(Rp)
MOP
Kleresit
Pupuk dasar
2 – 3
7 – 8
12
 18
24
36
48

-
75
75
100
100
250
275
300

200
150
150
175
175
400
400
400

-
50
50
62
62
150
200
200

-
50
50
50
50
100
100
100
            Cat : Jenis Pupuk dapat diganti asalkan kandungan unsur haranya setara.
          5.      Pemeliharaan Penutupan Tanah
         Tabel Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah
Waktu
Dosis
Cara Pemberian
Saat tanam



Umur 3 bulan

20 Kg Fospat
alam atau sesuai
dengan berat bibit

200 – 300 fosphat
alam setiap hektar
Dicampur dan ditabur
bersama-sama dengan
 biji..

diatur dan ditabur, di
atur Leguinosa

          6.      Tumpangsari/Tanaman sela/intercroping
Syarat-syarat pelaksanaan tumpangsari :
-                Topografi tanah maksimum 11 (8%)
-                Pengusahaan tanaman sela diantara umur tanaman karet 0 – 2 tahun.
-                Jarak tanam karet sistem larikan 7 X 3 meter atu 6 X 4 meter.
-                Tanaman sela harus di pupuk.
-                Setelah tanaman sela dipanen segera diusahakan tanaman penutup tanah.

IV.         TEKNIK PERLINDUNGAN TANAMAN


         5.1.    HAMA
Hama adalah perusak tanamam yang berupa hewan seperti serangga, tungga, mamalia dan nematoda. Beberapa jenis yang cukup merugikan yaitu:
1.     Kutu Lak (Laccifer)
 Ciri-ciri :
-  Menyerang tanaman karet  dibawah 6 tahun.
-  Kutu berwarna jingga kemerahan dan terbungkus lapisan lak.
-  Mengeluarkan cairan madu, membuat jelaga hitam dan bercak pada tempat serangan.
-  Bagian yang diserang ranting dan daun lalu cairannya dihisap sehingga bagian tanaman yang terserang kering.
-  Penyebaran kutu lak dibantu semut gramang.
Pengendalian :
-  Lakukan pengawasan sedini mungkin.
-  Bila serangan ringan lakukan pengendalian secara mekanais, Fisik dan Biologis
-  Bila serangan berat, dengan Insektisida Albocinium 2% dan formalin 0,15% ditambah Surfaktan Citrowet 0,025%, penyemprotan interval 3 mg.
2.    Pscudococcus Citri
Ciri-ciri :
-  Stadia yang merusak adalah nympha dan imago berwarna kuning muda
-  Meyerang tanaman yang masih muda seperti ranting dan tangkai daun.
Pengendalian :
-  Bila serangan berat bisa menggunakan Insektisida jenis metamidofos dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,05%-0,1%
-  Interval penyemprotan 1-2 mg

     5.2. PENYAKIT
Penyakit adalah gangguan yang terus menerus pada tanaman yang disebabakan oleh patogen, virus, bakteri dan jasad renix lain.
Beberapa jenis yang cukup merugikan antara lain:
1.       Penyakit Embun Tepung.
Penyebab
Gejala


Pengendalian

:
:


:
-
-

-
-



Cendawan Oidium heveae
Menyerang daun muda lalu  berbintik putih dan merangas   
Umumnya menyerang setelah musim gugur daun.
Secara mekanis dengan menanam klon yang sesuai ,     pemeliharaan yang intensif,  penyelarasan beban sadapan
Secara kimiawi dengan belerang circus dosis 3 – 5 Kg/Ha interval 3 – 5 hari.
2.       Penyakit Daun Colletotrichum
Penyebab
Gejala



Pengendalian
:
:



:
-
-


-
-
Colletotrichum gloeosporioides

Daun muda cacat dan  gugur, pucuk gundul daun bercak coklat, ditengah  bercak berwarna putih                          bintik hitam (spora)

Penyebab oleh angin dan hujan 
Dengan Fungisida

3.       Penyakit Kanker garis.
Penyebab
Gejala






Pengendalian
:
:


:

:

:
-
-


-

-

-

Phytophthora palmivora butl
Bidang sadapan terdapat garis vertikal berwarna hitam dan bisa masuk  sampai kebagian kayu dan kulit membusuk
Banyak timbul dimusim  penghujan dan kebun yang                          terlampau lembab
Makin rendah irisan, kemungkinan infeksi makin                          besar.
Secara mekanis penjarangan pemangkasan pelindung,      penanaman penutup tanah.
Secara Kimiawi dengan Fungisida (B.a. Kaptofol)

4.       Penyakit Jamur Upas.
Penyebab
Gejala

Pengendalian

:
:

:
-
-

-
Cortisium salmonicolor
Tajuk pada dahan / cabang akan layu sehingga tanaman
 lemah dan produksi turun.
Secara kimiawi luka akibat serangan dilumas dengan
fungisida bahan aktif tridermof  (Calizin Rm 2%).           

5.       Penyakit Bidang Sadapan
Penyebab
Gejala


Pengendalian
:
:


:
-
-

-
-
Ceratocystis Fimbriata
Menerang kulit bidang sadapan yaitu timbul selaput benang berwarna putih kelabu lalu
Penyebaran melalui spora  spora dan pisau sadap
Secara mekanis dengan mengurangi kelembaban.
Secara kimiawi dengan Fungisida bahan aktif  benomil     dan Kaptofol



6.       Penyakit Cendawan Akar putih.
Penyebab
Gejala


Pengendalian
:
:


:
-
-


-

-
-
-
Cendawan Fomes Lignosus
Daun kusam, menguning, layu dan akhirnya gugur
Tanaman bila dibongkar pada akar terdapat cendawan berwarna putih kekuningan        
Secara mekanis saat pembukaan lahan tunggul dan akar harus dibongkar
Penanaman 1-2 tahun  setelah pembongkaran
Tanaman sakit dibongkar lalu dibakar
Secara kimiawi akar yang terserang dipotong lalu          diolesi fungisida.                       

 

VI. PANEN DAN PASCA PANEN
     Tanda-tanda kebun mulai disadap :
Umur rata-rata 6 tahun atau 55% dari areal 1 hektar sudah mencapai lingkjar batang 45 Cm sampai dengan 50 Cm. Disadap berselang 1 hari atau 2 hari setengah lingkar batang, denga sistem sadapan/rumus S2-D2 atau S2-D3
Pengolahan lateks sebagai berikut :
-          Standar karet kebun diturunkan dari rata-rata 32% menjadi 16% dengan jalan memberi air yang bening atau yang bersih.
-          Kemudian dicampur dengancuka/setiap 1 Kg karet kering 350 s/d 375 Cc larutan 1% cuka.
-          Dibiarkan sampai beku.
-          Kemudian digiling dalam gilingan polos dan kembang, kemudian direndam rata-rata 60 menit.
-          Disadap selama 1 minggu
-          Kemudian dihasilkan dalam bentuk RSS I, II, III dan IV of sheet.
                                                                    ***

 
READY STOCK : BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR

KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.

BIBIT AREN UMUR 6 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.

BIBIT AREN UMUR 2 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 1.500/POKOK.

HP.0813 7000 8997. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.