Minggu, 29 Juni 2014

Beda Kelapa Sawit PPKS, Lonsum dan Socfindo

Ada beberapa kali pembaca Kompasiana bertanya kepada saya tentang apa bedanya kelapa sawit yang benihnya asal PPKS (Marihat), asal Lonsum dan asal Socfindo.
Berikut akan saya usahakan untuk menjelaskannya, sesuai dengan pengamatan saya langsung di lapangan dan sesuai pula dengan batas ilmu pertanian yang saya pahami.
Kebetulan, saya tinggal di daerah yang dikelilingi oleh banyak perkebunan kelapa sawit. Dalam radius sepuluh kilometer, ada PTPN III, dan PTPN IV, asal benih PPKS.
Ada PT. Perkebunan Kwala Gunung, asal benih PPKS.
PT.Buana Indah Sawit (dulu PT. Buana Estate), asal benih Wilmar.
PT. Supra Matra Abadi (dulu PT. Hapinnish & NV Oriental), asal benih Sinar Mas.
PT.PP London Sumatera perkebunan Dolok Estate, asal benih Lonsum.
Ada pula PT Bakrie Sumatera Plantatation Tbk (dulu PT.Uniroyal), asal benih ASD Costa Rica.
Terakhir, ada PT. Socfindo Perkebunan Lima Puluh, asal benih Socfin.
Dari semua perkebunan sawit di atas, yang menurut saya paling baik kondisi umum pohon sawitnya adalah yang milik PT.Supra Matra Abadi. Setidaknya dilihat dari masa trek yang singkat dan masa peremajaan yang relatif lebih lama. Tingkat keutuhan tegakan pohon hidup juga yang paling tingi, saat dilakukan peremajaan. Nyaris di atas 90 persen pohon masih berdiri kokoh dan sehat.
Usut punya usut, ternyata memang perusahaan ini yang paling baik tehnik perawatannya. Salah satu contoh adalah, mereka melakukan penyemprotan di malam hari (sampai menjelang dini hari) untuk mengatasi masalah serangan ulat kantung. Sedangkan perusahaan lain hanya menyemprot pada sore hari sampai jam sepuluh malam saja. Pemupukan juga dilakukan lebih intensif.
Selain itu, PT.SMA juga mengalirkan limbah cair PKS-nya ke lapangan perkebunan, menggunakan sistim pipanisasi dan disebar dengan sistim parit tulang ikan, dimana hal itu dipercaya dapat membantu meningkatkan produksi TBS dan mendongkrak rendemen CPO.
Di pihak perusahaan lain, terutama PTPN, banyak tegakan utuh pohon sawitnya yang sudah punah dihantam Ganoderma, dengan varian penyakit busuk pangkal batang. Padahal usia pohon sawit masih sekitar 10-12 tahun saja.
Jadi intinya, semua benih sawit keluaran produsen resmi itu rata-rata sama saja baiknya. Yang paling penting adalah perawatan di lapangan. Sehebat apapun benih sawit yang ditanam, jika perawatannya hanya sekedarnya, maka jangan mimpi bisa mendapatkan hasil yang baik.
***
Beberapa waktu yang lalu, produsen benih sawit PPKS ada merilis varietas benih sawit jenis baru, dilabeli Marihat Klon (MK). Benih yang dikembangkan dengan sistem klon plasma ini diklaim akan memberikan produksi TBS dan CPO yang 20-30 persen lebih tinggi dari benih konvensional asalan biji. Namun hasilnya belum bisa kami amati, karena belum ada perkebunan kelapa sawit di daerah kami yang menanamnya.
Sekedar info, PPKS melepas benih MK ini seharga Rp.13.500/pokok untuk benih sawit umur 3 bulan (baby sawit, dalam polibag mini), dan Rp.40.000/pokok untuk benih siap tanam usia 7-9 bulan. Harga ini jelas lumayan jauh di atas harga benih asal biji produk perusahaan pembenihan yang sama, yakni di angka Rp.10.500 dan Rp26.000.

***

 Jual bibit aren, hub. 0813 7000 8997 (Muhammad Isnaini alias Bang Pilot).