Senin, 17 Maret 2014

Cara Membuat Mocaf Tanpa Enzim Fermentasi






Mocaf (modification casava flour) adalah tepung ubi yang telah melalui proses fermentasi sehingga tepungnya berwarna putih, tidak berbau dan berasa khas ubi (seperti pada tepung gaplek),juga  memiliki nilai karbohidrat yang cukup tinggi dan cocok untuk penderita autis yang alergi terhadap gluten.


Penemu fermentasi tepung mocaf yang pertama adalah Dr. Achmad Subagio staf pengajar dari Universitas Negeri Jember, Jawa Timur.

Ada banyak artikel yang menulis tentang cara membuat mocaf (modification casava flour) dengan menggunakan enzim yang mengandung bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat yang direndamkan bersama dengan potongan ubi segar akan mengurai sel ubi kayu hingga ketika diolah menjadi tepung akan didapatkan tepung yang berwarna lebih putih, cepat larut dalam air, dan memiliki rasa yang mirip dengan rasa yang dihasilkan oleh tepung gandum.  Selain itu, tepung mocaf aman dikonsumsi penderita autis dan alzheimer karena tidak mengandung gluten. Gluten pada tepung gandum (terigu) sering menyebabkan alergi pada penderita dua penyakit di atas.

Harga enzim (bio aktivator) yang sekira Rp.35.000/liter termasuk lumayan mahal bagi para pengusaha kecil pembuat mocaf. Karena itu kami coba berbagi cara membuat mocaf tanpa menggunakan enzim, namun tepung yang dihasilkan tidak kalah mutu dan rasanya. Selain itu, proses pembuatan tepung juga akan makin alami dan dapat dipergunakan tanpa was-was.

1.Kupas kulit ubi.
2.Bersihkan lendir pada permukaan ubi dengan air dan brush. Atau bisa juga dengan merendam ubi dalam air bercampur kapur sirih selama satu malam. Lima ons kapur untuk satu kuintal ubi segar kupasan. Seluruh bagian ubi harus terendam.
3.Potong-potong tipis ubi dengan pisau atau alat pencacah hingga berbentuk seperti keripik atau chips.
4.Rendam dalam air bersih selama 3 hari. Ganti air setiap 24 jam. Air rendaman ini diendapkan lalu diambil tepung tapiokanya.
5.Angkat rendaman, tiriskan. Jika ada alat pres, maka pres chips basah agar kadar airnya cepat berkurang.
6.Jemur chips sampai kering, kadar air 10-12%.
7.Tumbuk atau giling chips kering.
8.Ayak dengan ayakan ukuran butiran mesh 60 atau 80. Yang masih kasar bisa digiling kembali.
9.Campurkan tapioka yang juga sudah dikeringkan, lalu jemur ulang sampai kering benar.
10.Simpan mocaf dalam wadah plastik yang tertutup rapat.
11.Mocaf siap pakai atau dijual.

Catatan :
3 kg ubi segar menghasilkan 1 kg mocaf.
Harga mocaf di pasaran (partai besar) Rp.5.000/kg.
Harga ubi segar (partai besar) Rp.700/kg.
Harga terigu kelas bawah (partai besar) Rp.7.500/kg.
Harga terigu kelas atas (eceran) Rp.12.000/kg.
Mocaf dapat menggantikan 100% terigu pada kue basah dan cake, 50% pada biskuit dan 25% pada kue kering.

Nah, anda tertarik menjadi pengusaha mocaf? Untung besar di depan mata, saat persaingan masih belum ramai. Modal awal juga termasuk cukup kecil.

Untuk yang serba pakai tangan, modal awal cukup Rp.200.000.-
Untuk yang serba pakai mesin, kecuali pengering cukup pakai sinar matahari, modal awal peralatan sekitar Rp.30.000.000.-


Sumber foto :
http://1.bp.blogspot.com/-McMiC-Coz6A/TdM9nPS_VEI/AAAAAAAABGU/rKcxUxZTJLA/s1600/Tepung-Mocaf.jpg

Minggu, 16 Maret 2014

Jual Bibit Durian Montong, Kani, Petruk dll




Jual bibit durian montong di Sumatera Utara




















Saya Mhd.Isnaini, staf pemasaran UKM Tani Muda, alamat di Dusun II Pulau Besar, Desa Petatal Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumut, Jalan Lintas Medan-Kisaran km 129, depan Puskesmas. Hp.0813 7000 8997.
Kami memproduksi dan menjual bibit durian montong, kani dan petruk.
Harga bibit sama, Rp.50.000/pokok.
Harga di luar ongkos kirim/angkut.
Perbanyakan bibit dengan sistim sambung pucuk (kopulasi).
Tinggi 30-40 cm.
Bebas hama dan penyakit.
Stok banyak.
Dalam polibag ukuran berat 2 kg.

Pengalaman 14 tahun.
Binaan Distan setempat.

Bisa kirim ke seluruh Nusantara.
Jika kirim jauh bisa tanpa tanah dalam polibag.
Lebih disukai bila pembeli datang langsung.
Yang serius saja.

Rabu, 12 Maret 2014

Inokulasi Gaharu Sederhana



Pohon penghasil gaharu (agarwood) semisal aquilaria malaccensis, a. subintegra , a. microcarpa atau grinop, sejatinya sangat sulit menghasilkan gubal gaharu secara alami. Tidak sampai 5% gaharu yang ada saat ini dihasilkan secara alami.

Dibutuhkan campur tangan manusia untuk mempercepat dan mempermudah terbentuknya gubal gaharu dalam batang pohon agarwood. Campur tangan itu biasanya dalam bentuk inokulasi.

Inokulasi adalah pengeboran batang pohon dan penyuntikan cairan inokulan.

Satu pohon agarwood umur 5-7 tahun bisa menghabiskan 3 liter cairan inokulan.

Inokulan gaharu sendiri pada dasarnya adalah air yang mengandung bahan aktif jamur fusarium sp.

Adapun harga inokulan di pasaran berkisar antara Rp.500.000 – Rp.700.000/liter.

Tidak semua petani gaharu mampu membeli inokulan ini.  Karena itu, beberapa petani mencoba tehnik inokulasi sangat sederhana. Ada yang membacok-bacok batang pohon agarwoodnya, ada yang memaku, melukai, mengebor lalu memberi oli kotor, dlsb.

Menurut pengesanan para petani gaharu di Malaysia, cara inokulasi sederhana ini meningkatkan kemungkinan terbentuknya gubal gaharu menjadi sekitar 10-15%.

Sebenarnya ada cara lain yang layak dicoba. Yakni dengan cara mengebor batang pohon agarwood di sekelilingnya. Diameter mata bor 4-5 cm, jarak antar lubang 5 cm, jarak vertikal 5 cm dan jarak horizontal 5 cm. Barisan berupa lingkaran spiral. Kedalaman pengeboran adalah 1/3 diameter batang. Jadi, makin ke atas kedalaman makin dikurangi. Arah lubang menghadap ke bawah, sehingga lubang tidak kemasukan air pada waktu turun hujan.

Kemudian ambil pohon pisang yang mati layu karena serangan jamur fusarium sp (jamur upas), blender batang semu atau pangkal pelepahnya, lalu masukkan sampai penuh ke dalam lubang bor yang sudah ada di sekeliling batang pohon agarwood.

Dalam waktu 3 bulan akan ketahuan apakah perlakuan berhasil atau gagal. Jika gagal, maka tidak terjadi perubahan yang berarti pada batang pohon. Jika berhasil, maka lubang akan berwarna coklat dan apabila kayunya disayat lalu dibakar akan tercium bau harum. Tanpa bau harum, maka tak ada keberhasilan.

Selamat mencoba ! Semoga berhasil.

Menggali Potensi Tanaman Asam Gelugur


Asam gelugur (Garcinia atroviridis) masih kerabat asam kandis dan manggis. Buah asam gelugur dimanfaatkan sebagai pemberi rasa masam kepada makanan dan minuman. Patut juga kita ketahui, bahwa sekarang sudah ada diproduksi dan dijual sirup asam gelugur yang rasanya asam manis dan segar.
Asam gelugur berbuah tak mengenal waktu. Seringnya, pohon asam gelugur berbuah dua kali setahun. Namun ada juga yang bisa berbuah sampai empat kali setahun.
Asam gelugur berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Banyak tumbuh secara liar di peladangan dan halaman rumah. Salah satu vektor penyebarnya adalah hewan musang
Musang suka memakan biji asam gelugur yang rasanya asam agak manis. Kotoran musang yang berisi biji asam gelugur ini kemudian menjadi bakal bibit asam gelugur yang mungkin akan tumbuh kapan saja. Ini terjadi karena biji asam gelugur memiliki masa dormansi (masa biji tidur) yang lumayan lama. Menunggu datangnya situasi yang ideal untuk tumbuh. Bila situasi yang baik ini tidak didapatkan, maka biji akan mati dalam waktu beberapa bulan.
Galibnya, asam gelugur belum ramai dibudidayakan secara besar-besaran di Indonesia.
Hanya segelintir orang saja yang sengaja menanam beberapa belas batang pohon ini di tegalan miliknya. Yang lainnya rata-rata hanya menerima ‘jasa baik’ dari musang tadi.
Apa sebab orang malas menanam asam gelugur? Bagaimana dengan potensi
ekonominya?
Mari kita bahas secara lebih mendalam.
Asam gelugur dapat dibiakkan secara vegetatif dan secara generatif.
Secara vegetatif.
Bisa dengan cara dicangkok, disambung atau persusuan.
Semua cara ini keuntungannya adalah : cepat berbuah, tumbuh tak terlalu tinggi,
sama sifatnya dengan induknya, dan pasti betina.
Namun kesulitan pembiakan asam gelugur secara vegetatif ini adalah terbatasnya
cabang ideal yang baik untuk dikembangkan. Hanya cabang puncak yang tegak ke atas
yang bisa dicangkok, disambungkan atau disusukan. Jika menggunakan cabang lain yang
mengarah ke samping, maka sampai kapan pun tajuk pohon akan tetap ke samping. Tak mau tumbuh ke atas, meski sudah ditopang atau disangga dengan baik.
Karena itu, tidak ada pilihan lain untuk mengembangkan asam gelugur secara massal,
kecuali dibiakkan secara generatif alias menanam bijinya.
Kerugian cara ini adalah : dormansi biji lumayan lama, berbuahnya antara 6-7 tahun sesudah tanam, 10% sampai 15%nya jantan, dan sifat anak belum tentu sama dengan induknya.
Untuk mengetahui jantan betinanya pohon asam gelugur juga butuh waktu yang lama,
yakni setelah umur 4-5 tahun sesudah tanam. Pohon yang cabang-cabangnya cenderung mengarah ke atas dan mendatar biasanya adalah jantan, sedangkan yang cabang-cabangnya mengarah mendatar dan ke bawah biasanya adalah betina.
Untuk meminimalisir kerugian-kerugian itu, maka indukan harus dipilih dengan baik.
Beberapa kriteria dalam memilih indukan yang baik dan sehat adalah : banyak cabangnya mengarah ke bawah, banyak berbuah, cukup umur (+12 tahun), sering berbuah secara bertingkat (dalam satu masa ada cabang yang berbunga dan di cabang lain ada yang sudah jadi buah), diameter buahnya cukup besar (+10 cm), dan tidak pernah terserang penyakit yang serius.
Potensi ekonomi asam gelugur sendiri sebenarnya cukup bagus. Saat ini harga buah segarnya di tingkat petani berkisar antara Rp.2.500-3.000/kg. Sedangkan harga asam gelugur yang sudah diiris tipis dan dijemur kering antara rp.25.000-28.000/kg.
1 kg buah segar asam gelugur akan menghasilkan 200-250 gram asam yang kering kualitas siap ekspor.
Satu pohon asam gelugur yang sudah berumur 15 tahun dapat berbuah sampai satu ton pertahun. Ini berarti pohon ini bisa menghasilkan uang Rp.2.500.000-3.000.000 perpohon pertahun. Dengan jarak tanam 7×8 meter, satu hektar lahan akan dapat ditanami sebanyak
178 pohon. Jika pohon yang jantan sebanyak 15%, maka yang betina tinggal sekitar 150 pohon. Maka 150 pohon x rp.2.500.000 = potensi penghasilan petani asam gelugur perhektar pertahun = rp.375.000.000-33%(tingkat kegagalan) = Rp.250.000.000,-
Bagusnya, pohon asam gelugur nyaris tak mengenal batas usia produktif. Ada banyak pohon ini yang sudah berusia lebih dari 40 tahun dan tetap lebat berbuah setiap tahunnya.
Makin tua pohon asam ini, maka makin banyak buahnya.
Bagaimana, tertarik membudidayakannya?



Sumber foto :
http://www.sungaikuantan.com/2011/01/asam-kandis-asam-gelugur-ketiga-asam.html

Senin, 10 Maret 2014

Cara Mengatasi Serangan Babi Hutan Pada Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman sawit hancur akibat serangan babi hutan
Tanaman sawit hancur
Mengatasi serangan babi hutan bukanlah perkara mudah. Mengendalikan hama bermoncong panjang dan kuat ini jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mengatasi serangan tikus atau landak
Tingkat kesulitan mengendalikan babi hutan ini cukup tinggi dan butuh biaya ekstra,  karena tubuh babi yang lebih besar, tenaganya yang sangat kuat, dan kemampuan menggali tanahnya yang luar biasa. Jika babi mau, ia bisa menumbangkan sepohon kayu tegak sebesar paha orang dewasa, dengan cara menggali tanah tempat tumbuhnya.
babi hutan
babi hutan
Nah, apabila lahan anda yang akan ditanami kelapa sawit atau tanaman lain ada babi hutannya, maka terlebih dahulu harus diupayakan penanggulangan akan kemungkinan serangan hama itu.
Pemagaran tiap pohon sawit yang baru ditanam dengan kayu-kayu kecil tidaklah banyak membantu, karena babi memiliki kekuatan penghancur yang cukup kuat.
anak-sawit
Cara paling efektif dan murah adalah dengan memagari sekeliling lahan dengan tanaman salak yang banyak berduri panjang-panjang.
salak 1
Saat kecambah bibit sawit mulai ditanamkan ke polibag persemaiannya, maka mulai jugalah semai bibit salak.
Setahun kemudian, bibit salak sudah bisa ditanamkan di sekeliling lahan, jarak tanam 35-40 cm, atau tergantung besar anakan salak. Yang menjadi perhitungan adalah, setahun kemudian barisan tanaman salak sudah menyatu, hingga tak ada celah bagi babi untuk masuk.
Nah, saat bibit sawit sudah berumur dua tahun, adalah umur yang tepat untuk ditanamkan ke lahan yang memiliki sejarah serangan tikus, landak dan babi hutan.
Babi hutan dan landak sudah dipagar dengan salak berduri, sedangkan tikus sudah tak berdaya menghadapi besar dan kerasnya batang anak sawit umur dua tahun.
Sekarang anda sudah bisa memiliki sebidang kebun yang aman dari serangan hama pengerat. Dan anda bisa juga menikmati manis dan renyahnya buah salak yang berasal dari pohon yang anda tanam, meski pun awalnya hanya sebagai pagar hidup pelindung lahan.
salak lebat

Sebenarnya, masih ada cara lain yang cukup efektif untuk mengurangi efek destruktif dari babi hutan. Hanya saja cara ini butuh modal yang lebih banyak untuk pekerjaan.

Bibit kelapa sawit di tanam di dalam lubang ukuran panjang 50 cm, lebar 50 dan dalam 40 cm. Lalu didasar  lubang dibuat lubang lagi untuk menanam bibit. Lubang yang besar dibiarkan atau tidak ditimbun. Dengan cara ini babi hutan akan kesulitan menjangkau batang bawah bibit sawit. Babi tak punya pijakan untuk beraksi. Jika babi nekad, maka babi akan terperosok dan hidungnya tertusuk duri sawit.

Cara ini sudah terbukti efektif kami praktekkan di Bagan Siapi-api.


Cara yang paling umum dilakukan orang adalah dengan menanam bibit sawit yang sudah berumur 2 tahun. 1/3 bagian bibit sebelah atas dipangkas, lalu ditanam dengan cara memendam sejengkal batang bawah.
Jadi, bagian akar dan sejengkal bagian batang bawah ada di dalam tanah.

Kesulitannya adalah jarang sekali ada dijual bibit sawit umur 2 tahun. Kalau pun ada, harganya lumayan mahal. Jika bibit sawit non sertifikat umur setahun harganya 14.000 rupiah, bibit umur dua tahun bisa seharga 24.000 rupiah perpokok.

Ada satu lagi cara mengendalikan hama babi hutan, yakni dengan mengunakan racuh hama. Ada merk thimex, thiodan, pospit, dll. Biasanya diterapkan di lapangan dengan menggunakan pengumpan. Cara membuat pengumpan : rebus singkong. Angkat lalu tumbuk dan campur dengan belacan. Tumbuk sampai menjadi seperti getuk. Angkat dan taruh di atas wadah usang. Pakailah sarung tangan karet dan penutup hidung. Uleni getuk dengan rotensida/racun hama sampai merata. Bentuk jadi bole-bola kecil sebesar buah duku. Jemur hingga kering. Sebar ke lapangan yang banyak hama babi hutannya. Tutupi dengan sehelai daun agar tidak luruh terkena hujan. Buatlah plang bertuliskan : AWAS RACUN !

Phospit dapat pula diaplikasikan dengan cat tembok berbahan dasar air. Campur 1 kg phospit dengan 5 liter cat tembok warna putih atau merah, lalu kuaskan ke pangkal batang dan pelepah bibit kelapa sawit sebelum ditanam. Takaran ini untuk sekitar 500 batang bibit kelapa sawit umur setahun. Jika dimaksudkan untuk meracun babi, maka phospit diganti dengan timex. Phospit lebih kepada penangkalan lewat baunya yang tak disukai oleh babi hutan, dan secara berjangka harus dilakukan pengecatan ulang. Biasanya setiap 3 bulan. Ini berbeda dengan penerapan timex. Selagi catnya masih ada dan tidak luntur, maka racun masih aktif.




Cara yang paling mudah, murah dan bertahan lama adalah dengan mengantungkan gumpalan rambut manusia ke tiap pohon sawit yang baru ditanam. Gumpalan  rambut yang didapat dari para tukang pangkas itu diikat dengan 2 buah karet gelang lalu diikat dua lingkaran dengan kawat beton yang ujungnya dibengkokkan untuk pengait. Babi takut dengan rambut manusia karena menurut penciumannya yang tajam itu, rambut manusia berbau manusia. Sekedar diketahui, babi hutan memang sangat takut berjumpa dengan manusia.



Cara lain yang paling banyak dipraktekkan di lapangan adalah dengan membalut pangkal batang bibit sawit dengan potongan seng atau potongan kawat kandang ayam ukuran 30x30 cm. Seng lalu diikat dengan kawat beton di dua atau tiga titik. Ikatannya jangan dimatikan. Kawat dibuat agak panjang agar setiap 3 bulan dapat dilonggarkan sedikit.
Jika menggunakan cara ini, bibit sawit harus ditanam agak dalam. Memang akan berpengaruh pada agak lambatnya pertumbuhan, tetapi ini jauh lebih baik ketimbang harus menyisip tanaman berkali kali.

Demikian kami tuliskan, silahkan diaplikasikan ke lapangan, metode mana yang dianggap paling cocok.