Sabtu, 29 Agustus 2015

Oleh-Oleh dari Riau : Impian dan Tantangan


Bang Pilot baru pulang dari Riau. Membuka lahan di sana. Aslinya milik orang tua Bang Pilot.
Gak luas, Cuma sekitar 3 hektar. Rencananya mau ditanami durian montong satu hektar,
asam gelugur satu hektar dan aren satu hektar. Sebagai tumpangsarinya, singkong gajah akan
ditanam selama tiga periode penanaman. Bang Pilot gak akan menanam kelapa sawit, atau karet, karena
sudah terlalu banyak orang yang menanamnya. Lagi pula, nilai ekonomi sawit dan karet
makin merosot akhir-akhir ini.

Lokasi itu tepatnya ada di Dusun Bukit Kusuma, Desa Kusuma, Baserah, Kuantan Singingi, Riau.
Topografi tanahnya berbukit-bukit manis. Ketinggian bukit sekitar 10 sampai 15 meter. Luas satu buah
bukit sekitar 2-5 hektar. Ada ratusan bukit di sekitar situ. Di bawah bukit biasanya mengalir air berwarna
kecoklatan di parit-parit kecil. Kadang ada juga genangan rawa.

Jenis tanahnya adalah tanah kuning gembur berlempung sedikit berpasir. Kedalaman tanah di rendahan
sekitar 3 meter. Dibawahnya lagi akan ditemukan batubara muda. Batubara yang masih sangat
muda bahkan, karena dari bongkahan-bongkahan hitam mirip arang itu masih terlihat lapisan
berwarna coklat dengan urat kayu yang masih jelas. Hal itu kami ketahui saat menggali sumur untuk
sanitasi di sana.

Yang menakjubkan, meskipun berwarna kuning merata, tanah di sana sangatlah subur. Jenis tanaman
yang cocok dikembangkan adalah sawit, karet, kelapa, mangga, aren, durian, jambu-jambuan, tebu,
singkong, rambutan, nangka, matoa, dan nangka belanda alias sirsak. Sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan juga dapat tumbuh dengan suburnya. Yang kurang cocok adalah nenas, pisang dan pepaya, serta kelengkeng.

Kendala di lapangan adalah jauhnya transportasi. Juga mahalnya semua harga komponen pendukung hidup dan komponen pendukung pertanian. Kendala lain adalah masih banyaknya hewan liar yang berpotensi menjadi hama, semisal babi hutan, tikus dan terkadang masih dijumpai beruang.

Cuaca di Riau seumumnya adalah sedikit lebih ekstrim daripada Sumatera Utara. Karena itulah bercocok tanam di sana harus memperhitungkan benar keadaan cuaca. Dengan adanya efek El Nino tahun 2015 ini, maka masa awal penanaman menjadi mundur sampai Desember, padahal biasanya di bulan Nopember sudah banyak petani yang mulai menugal tanah untuk bertanam padi darat alias padi gogo. Satu hektar lahan di sana rerata akan menghasilkan padi darat sekitar 28-30 goni besar. Beratnya antara 2.500 kg sd. 3.000 kg. Tidak banyak memang bila dibandingkan dengan hasil bertanam padi secara intensif di sawah. Tapi sebagai catatan saja, cara bertanam padi disana adalah : tanam lalu tinggal. Petani akan datang lagi lima bulan kemudian untuk memanen tanaman padinya.

Bang Pilot sendiri tidak tertarik untuk menanam padi, tetapi ingin menanam singkong gajah. Karena harga singkong di sana cukup menarik, Rp.2.000/kg di tingkat perajin keripik. Selain itu, ada banyak teman petani di Riau yang berminat mengembangkan singkong gajah tetapi terkendala oleh langkanya bibit. Mudah-mudahan dengan merintisnya, Bang Pilot bisa membantu memenuhi kebutuhan para rekan petani itu.

Namun demikian, memandang masih banyaknya gondit alias babi hutan di sono, jelas tantangannya juga tidak akan mudah. Entah bagaimana nanti cara mengatasinya, tapi jalankan saja dulu. Biasanya solusi akan datang seiring masalah. Bang Pilot yakin akan ada ide jitu yang murah dan praktis untuk diterapkan nantinya. Yang jelas, makin bersih lahan, maka hama akan makin berkurang. Memelihara beberapa anjing penjaga mungkin akan banyak membantu.

Menanam durian montong, asam gelugur, aren dan tumpang sarinya singkong gajah akan sangat menarik. Sayang, sulitnya sinyal telepon seluler juga menjadi sebuah hambatan tersendiri. Bangh Pilot yang biasa berselancar di dunia internet setiap harinya, akan merasa kesepian sekali jika sedang berada di sana. Mmhh... pengorbanan.....