Sabtu, 31 Oktober 2015

Menyelamatkan Tanaman Sawit dan Aren dari Serangan Jamur Ganoderma Boninense








#Ini adalah jamur kuping di pangkal batang pohon aren. Keberadaannya menjadi pertanda bahwa pohon inang telah terserang jamur ganoderma boninense yang mikroskopis.#


Jamur ganoderma boninense (selanjutnya disingkat GB) adalah momok terbesar bagi para pekebun tanaman suku palma, seperti kelapa sawit dan aren. Jamur tular tanah yang bersifat tidak kasat mata (mikroskopis) ini, telah menyebabkan kerugian yang luar biasa pada banyak perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Pada tanaman aren, serangan GB jarang didapati. Kalau pun ada, pohon aren relatif lebih dapat bertahan dibandingkan kelapa sawit, karena struktur akarnya yang lebih pejal dan batangnya yang jauh lebih keras dan berkayu. Meski demikian, penulis sudah menemukan empat kasus serangan GB pada pohon aren, baik pada pohon aren yang belum berproduksi mau pun pada pohon aren yang tengah produktif. Pada pohon aren yang belum berproduksi, serangan GB menyebabkan pohon akan mati sebelum sempat bertandan. Hal inilah yang membuat orang awam menyebut bahwa pohon aren itu terkena penyakit mati bujang.
Ciri pohon aren yang terkena penyakit mati bujang adalah, pertama daun aren pada pelepah sebelah bawah menguning, lalu dalam waktu sekitar 6 bulan, semua daun akan ikut menguning. Daun kemudian berubah warna menjadi cokelat, lalu pohon pun mati dalam posisi masih tegak. Dalam beberapa kasus, ada ditemukan sebaran jamur kuping di bagian pangkal batang pohon aren yang terserang GB ini.
Sebenarnya, jamur kuping dan GB tidaklah punya hubungan yang khusus. Hanya saja, batang pohon yang terserang GB seringnya melapuk, hingga menjadi tempat yang sesuai bagi jamur kuping untuk tumbung berkembang, utamanya di musim penghujan. Karena itulah, keberadaan jamur kuping dapat menjadi indikator adanya serangan GB.  
Menurut catatan para botanist, GB mulai menyerang tanaman kelapa sawit penanaman perdana pada usia 23-25 tahun, hingga serangannya tidak terasa dan sering diabaikan. Namun, pada penanaman kedua, 20-30 persen tegakan sawit sudah membusuk batangnya lalu tumbang pada usia 15-17 tahun. Klimaksnya, pada penanaman ketiga, 40 persen tegakan sudah musnah hanya pada usia 10-12 tahun.
Saat ini, para pakar budidaya kelapa sawit belum punya jurus ampuh untuk mengatasi serangan GB.  Menurut pengamatan penulis, setidaknya ada enam perlakuan yang diterapkan para pekebun besar untuk mencoba menahan serangan GB.
1.Membajak tanah tempat tumbuh tanaman dengan traktor, dan membersihkan timbunan sampah.
2.Menaburkan dolomit di atas tanah yang sudah dibajak tadi.
3.Membumbun pangkal batang tanaman setinggi 80 cm, diameter 2 meter, dengan tanah bercampur dolomit.
4.Membuat parit dalam sekeliling perkebunan untuk mencegah migrasi jamur GB dari luar area.
5.Menyemprot lahan dan pohon dengan fungisida sistemik berspektrum luas.
6.Menaburkan biang jamur trichoderma harzianum sebagai agen hayati penangkal GB.

Sejauh pengamatan penulis, keenam langkah tersebut dapat mengurangi serangan GB, namun tidak dapat menyelamatkan pohon yang sudah terinfeksi. Buktinya, pada lahan demplot pengendalian GB yang dibangun sebuah perkebunan plat merah di dekat rumah penulis, masih saja ditemukan batang-batang pohon sawit yang bertumbangan karena akar dan pangkal batangnya membusuk dihajar GB.  

Lalu, apa lagi yang dapat dilakukan untuk mencoba mengendalikan serangan GB pada lahan pertanaman palma?

Beberapa langkah di bawah sepertinya layak dicoba, setidaknya dalam skala demonstration plot (demplot) :

1.Rotasi jenis tanaman.
Maksudnya adalah menanam tanaman penyela di antara penanaman pertama dengan penanaman kedua, dan seterusnya. Jenis tanaman dipilih tanaman yang berumur antara 5-7 tahun dan relatif  toleran terhadap infeksi jamur GB, sehingga diharapkan spora jamur GB yang ada di dalam tanah sudah mati ketika dilakukan penanaman tanaman utama selanjutnya. Jenis tanaman yang dapat dijadikan tanaman sela waktu ini diantaranya adalah kayu manis dan kopi ateng. Namun langkah ini akan sulit diterapkan bagi perkebunan yang memiliki pabrik kelapa sawit sendiri, karena mangkraknya pabrik selama penanaman sela itu akan mengakibatkan kerugian yang lumayan besar.

2.Mengebalkan tanaman palma dengan sistim infus fungisida sistemik.
Menurut ilmu ekonomi perkelapa sawitan, satu batang tegakan kelapa sawit nilai ekonominya adalah rp.2.500.000,- Artinya, selama hidupnya yang sepanjang 25 tahun itu, satu batang kelapa sawit akan menghasilkan uang rata-rata sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah. (bandingkan dengan nilai ekonomi pohon aren yang ada pada level Rp.11.000.000,- dengan masa tenggat hanya 15 tahun). Jadi, dengan nilai ekonomi sedemikian besar, galibnya tidaklah mahal apabila menginvestasikan dana sebesar Rp.100.000,- untuk mengamankan setiap batang tegakan pohon dari serangan GB. Ada pun sistim infus fungisida sistemik dapat dilakukan lewat batang (sistim bor) atau pun lewat asupan akar.

3.Membuat varietas tanaman palma tahan GB.
Para ahli perbanyakan tanaman palma mungkin bisa merekayasa bibit tanaman palma, hingga sejak kecil sudah mengandung agen hayati penangkal GB, semisal trichoderma harzianum atau gliocladium virens. Dalam skala laboratorium, baik tricho maupun glio diklaim mampu menangkal bahkan mematikan jamur GB.  Ini sejalan dengan kesimpulan dari beberapa percobaan yang pernah penulis lakukan. Area uji yang sebaran Tricho dan/atau glionya sudah menetap, menjadi kalis terhadap serangan GB. Namun, baik tricho mau pun glio itu akhirnya kalah oleh GB, jika GB  sudah lebih dahulu bercokol luas di media semai. Mula-mula memang kelihatannya tricho dan glio bersifat ekspansif, namun ketika media semai sudah kehabisan nutrisi dan terkontaminasi preparat lain , keadaan jadi terbalik. Hifa GB yang berwarna putih abu-abu terlihat bangkit dan menyerang, hingga akhirnya baik tricho mau pun glio berhasil dibekap habis dalam masa 35 hari. Hifa (benang-benang halus) tricho yang hijau kebiruan itu tinggal hanya sebuah titik kecil, seperti awal tumbuhnya, untuk akhirnya, musnah sama sekali. Artinya, siapa yang duluan bercokol, dia yang menang. Nah, jika bisa dibuat bibit tanaman palma yang mana tricho atau glio sudah bercokol didalamnya, maka besar kemungkinan tanaman itu akan selamat dari serangan GB di masa depan.