Senin, 22 Februari 2016

7 Sebab Gagal Membudidayakan Singkong



Singkong Gajah TGM.


Menilik sharing teman-teman di grup FB GAPESI (Gabungan Petani Singkong Indonesia) dan di beberapa grup FB yang membahas dunia persingkongan lainnya, ada yang mengaku hanya panen 20 ton umbi segar per hektar per musim tanam. Ada juga yang mengaku mendapat hasil 100 ton dengan luasan lahan yang sama. Bahkan, ada yang sampai 137 ton!
Mengapa sampai ada gap yang begitu jauh dalam hal range tonase produksi umbi segar bahan baku pembuatan tepung tapioka ini?
Sebenarnya, dapat hasil ‘hanya 20 ton saja’ itu, bukanlah sebuah kegagalan. Kami menganggapnya lebih sebagai ‘tangga’ untuk mendapat hasil yang lebih baik nantinya. Intinya, jadi petani harus mau belajar. Dan lahan pertanian adalah guru terbaik. Belajar dari teman yang sudah berhasil, juga akan mempercepat petani memahami bagaimana sebenarnya teknik budidaya singkong yang paling baik dilahannya. Karena, lain lahan lain karakteristik tanah dan cuaca, lain pula jenis singkong yang ditanam. Bila jenisnya sudah lain, maka tentu saja teknik bertanamnya akan sedikit berbeda.
Buat petani bermodal besar, tentu banyak kesulitan akan bisa diatasi jika mau menyewa jasa konsultan pertanian. Tapi bagi petani kelas gurem, sudah beruntung jika bisa belajar dari sharing dan diskusi sesama petani,  lewat dunia maya.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan petani singkong pemula, hingga hasil panennya tak seindah harapan.
1.Menanam singkong di musim kemarau.
Bertanam tanaman apapun, sebaiknya hindari mulai menanamnya di musim kering, kecuali sanggup menyiramnya. Tanamlah singkong di awal musim penghujan. Karena jika dimulai di musim kemarau, maka stek tanaman akan banyak yang mati. Jika berhasil tumbuh, maka akan mengalami kekurangan air, karena akarnya masih belum banyak dan belum cukup panjang menghujam untuk mencari kandungan air tanah.

Tanaman singkong yang mengalami kekurangan air di masa muda, akarnya sulit berkembang menjadi umbi, meski pun kemudian mendapatkan cukup curah hujan.  Karena itu, tanamlah singkong di awal musim hujan, dan panenlah setelah 11 bulan kemudian. Pengolahan tanah dianggap makan waktu 1 bulan. Sehingga musim tanam berikutnya juga di awal musim penghujan. Jika terjadi perubahan musim, misalnya akibat el nino, maka ikuti saja perubahan itu.

2.Menanam singkong di areal banjir.
Singkong jenis apapun, tidak tahan terhadap genangan air, atau tanah yang terlalu basah. Akar dan umbinya akan membusuk jika terendam air 3 hari saja. Lahan yang terlalu basah juga rentan menyebabkan serangan jamur upas, yang menyerang akar dan umbi singkong. Karena itu menanam singkong di lahan rawa, sawah rendah atau di lahan gambut basah, sebaiknya dihindari. Kecuali genangan air dapat diatasi dengan membuat parit tulang ikan, atau drainase jenis lainnya.    

3.Menanam singkong di tanah berbatu-batu.
‘Buah’ singkong adalah umbinya. Umbi adalah akar yang menggembung dan berisi cadangan makanan. Jika tanah lahannya berbatu-batu, maka akar akan sulit untuk menggembung. Akibatnya petani singkong akan banyak panen akar saja. Pabrik tapioka tentu tidak akan mau membeli akar ini.
Karena itu, tanamlah singkong di lahan yang gembur dan relatif bebas batu-batu. Tanah pasir juga kurang cocok untuk bertanam singkong, karena tahanan airnya yang kecil. Jenis tanah yang cocok adalah tanah hitam humus, lempung berpasir dan kuning hingga merah berpasir. Kandungan pasir sebaiknya jangan lebih dari 25 persen.

4.Tanah tidak dibajak dengan baik.
Kedalaman pembajakan lahan singkong minimal adalah 30 cm. Diukur dari tanah yang belum dibajak. Karena itulah sebaiknya pembajakan dilakukan oleh traktor pertanian yang besar. Jika hanya dicangkul seadanya atau dikoak-koak, maka akar menjadi sulit menembus tanah yang padat, dan akar juga akan sulit untuk menggembungkan dirinya.

5.Tidak mengantisipasi adanya angin kencang.
Daerah yang berangin kencang, pada dasarnya tidak cocok untuk dijadikan lahan bertanam singkong. Pohon singkong termasuk tanaman yang mudah rubuh, karena kedalaman akarnya tidak sebanding dengan tingginya pohon. Beberapa jenis singkong sering tumbuh sampai setinggi 3 meter, tetapi panjang akarnya rerata hanya 40 cm. Akar-akar itu pun kebanyakan hanya bergerak mendatar di dalam tanah, tidak mampu menghujam ke bawah, melewati batas tanah gembur hasil traktoran.  

Untuk daerah yang anginnya kencang, bisa menanam singkong malaysia. Singkong jenis ini tinggi batangnya rerata hanya 150 cm dan daunnya kecil-kecil. Batangnya kecil-kecil namun ulet/liat/tidak mudah patah. Tangkai daunnya juga pendek-pendek,  hingga tak terlalu rentan tumbang. Singkong malaysia termasuk singkong makan. Umbinya banyak namun pendek-pendek. Dapat ditanam dengan jarak tanam rapat, 75x75 cm.

6.Tidak mengantisipasi serangan jamur akar.
Menanam singkong di lahan bekas kebun karet tanpa pencabutan tunggul karet, adalah pertanian beresiko tinggi. Begitu juga jika dilakukan di lahan bekas tanaman berakar tunggang lainnya. Tunggul yang tertinggal akan menjadi pemicu timbulnya penyakit jamur upas/jamur putih/komes. Kayu lapuk di dalam tanah sangat disukai oleh jamur ini. Jamur upas menyerang umbi yang mulai terbentuk hingga umbi tua. Umbi yang terserang akan membusuk. Di bagian luar umbi terlihat hifa (benang-benang) jamur yang berwarna putih hingga kekuningan.

Antisipasi dilakukan dengan aplikasi dolomit/kaptan secukupnya. Umumnya adalah sebanyak 3 ton perhektar. Penyemprotan tanaman umur 4 bulan dengan fungisida sistemik juga akan membantu mengatasi serangan jamur upas ini.

7. Menanam singkong terus menerus di lahan yang sama.
Singkong termasuk tanaman yang rakus hara. Menanamnya secara terus menerus akan membuat tanah menjadi tandus. Karenanya, menyelingi satu atau dua musim tanam dengan tanaman lain yang tidak rakus hara akan cukup membantu. Tetapi jika petani tidak mau menyelingi tanaman, maka harus memperbanyak penggunaan pupuk kandang atau kompos.

Banyak petani singkong kita yang terkejut jika dikatakan jumlah pupuk kandang yang harus ditebarkan dilahannya adalah sebanyak 30 ton per hektar. Padahal pupuk kandang dan kompos itu bukan hanya akan mengembalikan kesuburan tanahnya, tetapi juga akan memperbaiki kandungan organik di dalam tanah. Kandungan organik ini berfungsi sebagai rumah bagi mikroba pengurai. Tanpa jasa mikroba pengurai, maka akan sulit bagi tanaman untuk menyerap kandungan aktif pupuk kimia pabrikan.

Demikianlah kami uraikan sebagian penyebab umum ‘kegagalan’  petani singkong pemula yang biasa kita temui di lapangan. Jika ada yang kurang, silahkan dikoreksi atau ditambahkan. Salam tani Indonesia !