Sabtu, 27 Februari 2016

Awas, Jeruk Nipis Palsu!




Jeruk nipis (Citrus Aurantifolia) termasuk dalam suku jeruk-jerukan. Pohonnya setinggi 3-6 meter. Baik tumbuh pada ketinggian 10-1000 mdpl. Buahnya yang mengandung asam sitrat dan vitamin C itu biasa dipakai sebagai bahan dasar pembuatan obat-obatan, sumber vitamin C dosis tinggi, perasa minuman, bumbu masak, pencuci rambut, penghilang karat dan bahan dasar cairan pencuci piring. Kulit buah jeruk nipis juga diketahui mengandung minyak atsiri.

Perbanyakan jeruk nipis dikategorikan cukup mudah, bisa melaui biji, cangkok, sambung pucuk, atau okulasi. Sebagian inovator botani anak negeri telah pula berhasil mengembangkan bahan tanamnya lewat stek. Caranya : ranting pohon yang sebesar jari dipotong sepanjang 50 cm, lalu tiap daun dipotong hingga tinggal seperempatnya. Bagian bawah ranting lalu diolesi ZPT perangsang akar  (Rootone F, GrowTone, Atonik, dll) sepanjang 10 cm. Isi polibag dengan media tanam berupa campuran tanah humus, pukan dan sekam padi, perbandingan 2:1:1. Buat lubang di tengah media tanam, masukkan ranting, lalu padatkan secukupnya. Siram dengan air hingga media tanam basah. Lalu masukkan ke dalam sungkup plastik. Buatkan teduhan di atas sungkup. Sungkup dibuka setiap jam 8 pagi untuk penyiraman, lalu ditutup rapat kembali.

Dulu, umumnya orang malas mengkebunkan tanaman jeruk nipis ini karena sulitnya penjualan buahnya jika dalam jumlah yang besar. Kemudian hari, setelah banyak permintaan, terutama dari pemasok bahan baku ke pabrik pembuatan cairan pencuci piring, gairah penanaman jeruk nipis bangkit kembali. Harga penjualan buah segar jeruk nipis ini pun mengalami perbaikan. Jika sebelumnya para pengepul hanya menghargainya Rp.3.000-Rp.5.000 per kilogram, maka kini harganya menanjak drastis menuju angka Rp.12.000-Rp18.000 per kilogram.

Bagi petani yang berminat membudidayakan tanaman jeruk nipis, sebaiknya berhati-hati. Mengapa? Berikut uraiannya.

Tanaman jeruk nipis pada era canggih ini, sudah banyak yang disilangkan dengan jenis jeruk lain. Hasilnya adalah tanaman jeruk yang buahnya lebih besar, kulitnya lebih tebal, cepat berbuah dan buahnya lebat-lebat. Kulit yang lebih tebal sebenarnya cukup membantu mengurangi resiko buah yang rusak akibat ulah kumbang penggerek buah. Kulit buah jeruk yang tebal juga membantu keutuhan buah jika dikirim dalam jarak yang jauh dan masa yang lebih lama.



Sayangnya, nyaris semua persilangan tadi meninggalkan jejak yang kurang baik. Yakni aroma khas air buah jeruk nipis yang segar dan tajam itu menjadi berubah, minimal menjadi lebih pudar. Bagi produk cairan pencuci piring, aroma khas jeruk nipis tadi telah menjadi semacam identitas utama. Akibatnya, kebanyakan perusahaan/pabrik pembuat cairan pencuci piring tidak mau membeli buah segar jeruk nipis ‘palsu’ ini.

Beberapa orang petani yang sudah terlanjur menanam jeruk nipis hasil persilangan ini pun jadi kecewa. Produknya ditolak calon pembeli karena buah jeruk nipis itu tidak sesuai dengan spesifikasi permintaan.  Yang diminta adalah buah jeruk nipis asli! Bukan yang lain.

                                Kiri : jeruk nipis. Kanan : jeruk nipis kw3.

Nah, sebagai panduan bagi petani yang bakal menanam jeruk nipis, di bawah ini kami sampaikan beberapa ciri-ciri khusus tanaman jeruk nipis.

Sebenarnya, untuk menandai sebatang pohon jeruk nipis itu tidaklah sulit. Yang paling penting untuk diidentifikasi jelas adalah buahnya. Buah jeruk nipis asli kulitnya tipis. Karena itulah ia dinamakan jeruk nipis. Bau air perasannya khas, segar dan tajam. Bentuk buahnya membulat sedikit lonjong, tidak ada ujung meruncing di bagian bawah buahnya, kulit buah relatif halus, mulus dan licin serta berkilat.   


Jika akan dikembangkan dalam skala kecil, bisa memilih bibit asal cangkokan. Tanaman asal cangkokan akan berbuah lebih cepat, tajuknya kecil dan sifatnya akan sama seperti induknya. Kelemahannya adalah mudah tumbang karena tidak memiliki akar tunggang. Selain itu tanaman jeruk nipis asal bibit cangkokan relatif lebih rentan terserang penyakit busuk akar akibat serangan jamur akar. Itulah sebabnya mengapa umumnya tanaman hasil cangkokan jarang yang bisa berumur panjang.  Tajuk yang kecil juga akan membuat buahnya lebih sedikit.

Jika akan dikebunkan, maka pilihan bibit bisa jatuh pada bibit asal sambung pucuk, okulasi atau asal biji. Tanaman jeruk nipis asal biji memiliki kelemahan yakni lama baru berbuah, umumnya makan waktu 4-5 tahun. Sedangkan bila bibitnya berasal dari perbanyakan dengan sistim cangkok, sambung pucuk atau okulasi, maka bisa diharapkan akan sudah mulai berbunga pada umur 3 tahun.

Meski demikian, tanaman asal biji punya kelebihan yang cukup menguntungkan. Tajuk pohon lebih rindang dan tinggi, sehinga buahnya lebih banyak. Umurnya juga akan lebih panjang, karena akarnya dalam menghujam bumi, serta tidak memiliki cacat bekas sambungan. Tanaman jeruk nipis asal biji juga diketahui lebih tahan terhadap serangan jamur akar.

Petani  tak perlu khawatir akan adanya pohon jeruk nipis yang jantan, karena semua pohon jeruk nipis itu betina alias bisa berbuah. Hal ini disebabkan karena biji jeruk nipis bisa berkembang secara apomixis atau apogami.

Demikian sedikit kami nukilkan tentang budidaya jeruk nipis. Tambahan dan koreksi demi majunya pertanian Indonesia, tentu kami harapkan.