Sabtu, 08 Oktober 2016

Lada Perdu, Sebuah Kreatifitas Yang Menyimpan Misteri




Berkecimpung di grup Facebook Ladaku Harapanku, banyak sekali ilmu yang bisa didapat. Karena di grup khusus tempat berkumpulnya para peminat budidaya lada itu, banyak dibagikan pengalaman petani-petani lada dari seantero Nusantara.  Pengalaman yang bukan hanya sekedar teori di atas kertas. Pengalaman yang nilainya jauh melebihi apa yang bisa didapat di bangku kuliah ilmu pertanian. Pengalaman yang bisa dipetik hikmahnya untuk menghindarkan kerugian dan dapat pula diterapkan untuk mendapatkan keuntungan dalam bertanam lada.
Saat ini budidaya lada memang sedang booming. Hal itu disebabkan oleh naiknya harga lada putih kering secara sangat signifikan. Dari hanya Rp.25.000/kg pada 2010, merayap menjdai Rp.45.000/kg di tahun 2012, kemudian menjadi Rp.90.000/kg pada 2013. Harga bumbu masak berasa pedas itu  lalu bertengger pada angka Rp.190.000/kg pada  Juni 2016. Adapun harga lada hitam pada Juni 2016 berada di kisaran Rp.145.000/kg. Harga-harga lada itu sedikit terkoreksi setelah lebaran, karena memang trend harga lada selalu memuncak pada bulan puasa hingga Idul Fitri.

Alkisah, pada tahun-tahun sebelumnya, lada belumlah menjadi sebuah komoditi fenomenal seperti sekarang. Nilai ekonomi budidayanya masih setara dengan pertanaman singkong, kelapa sawit atau pun karet. Sedangkan tingkat kesulitan perawatan lada dikenal sedikit lebih rumit dibanding ketiga jenis tanaman lain di atas. Hal ini membuat ekspansi penanaman lada menjadi relatif stagnan. Hal ini memicu para pengembang bibit lada membuat sebuah inovasi baru, memperkenalkan lada varian anyar yang kemudian populer dengan nama lada perdu.

Lada perdu adalah lada yang bibitnya berasal dari stek cabang produksi. Artinya, ranting (sulur)  tanaman lada yang biasa menjadi tempat menempelnya buah lada diambil sebagai bahan tanam pada perbanyakan bibit. Hal ini dapat dikatakan meninggalkan kebiasaan lama, yakni menggunakan stek yang berasal dari  sulur panjat. Penanaman sulur panjat akan menghasilkan tanaman lada panjat, yakni jenis lada umum yang membutuhkan tiang panjat dalam usaha penegakan tajuknya.

Tanaman lada perdu tidak membutuhkan tiang panjat karena ia tidak memiliki sulur panjat yang biasanya memiliki akar lekat di setiap buku ruasnya. Akat lekat inilah yang kemudian menjadi alat bagi tanaman lada untuk melekatkan diri pada tiang tegakannya, baik berupa tiang kayu mati, tiang kayu hidup atau pun tiang buatan dari cor beton. Karena lada perdu tidak memiliki sulur panjat, maka tajuknya hanya akan berupa kumpulan ranting-ranting yang teronggok di tanah, mirip seperti pada tanaman ubi jalar.

Para penangkar bibit tanaman lalu memperkenalkan lada perdu ini sebagai tanaman lada unggulan, karena memang memiliki tiga kelebihan utama. Mulai dari ia tidak membutuhkan tiang panjat yang pengadaannya butuh biaya, lebih cepat berbuah sampai kemudahan memanen buahnya karena tidak membutuhkan tangga panjat seperti ketika memanen buah lada panjat.

Namun sayangnya kebanyakan para penangkar bibit itu tidak menerangkan bahwa varian lada perdu memiliki dua kelemahan utama pula. Tanaman lada perdu jauh lebih rentan terhadap serangan penyakit akibat jamur. Baik penyakit busuk pangkal batang mau pun penyakit kuning, yang merupakan dua jenis penyakit utama yang sering menjadi penyebab gagalnya pertanaman lada.

Hal ini dapat dipahami, karena bentuk perdunya itu menyebabkan tanah bagian bawah tanaman lada akan menjadi selalu lembab basah di musim hujan. Dan bagian tubuhnya yang bersinggungan dengan tanah akan menjadi lebih banyak, karena tanaman lada perdu ini memang rebahan di tanah. Semakin lembab tanah dan semakin banyak bagian tanaman yang bersingungan dengan tanah juga berarti semakin besar kemungkinan terserang penyakit.

Kelemahan utama tanaman lada perdu yang kedua adalah rendahnya produksi. Setiap pohon lada perdu hanya akan menghasilkan lada putih seberat 200 gram sampai dengan 300 gram pertahun. Bandingkan dengan produksi lada panjat yang ada di kisaran 1 kg sampai dengan 3 kg perpohon pertahun.  Bahkan beberapa teman di grup Ladaku Harapanku ada yang sudah menikmati hasil sampai dengan 5 kg perpohon pertahun, yakni pada tanaman lada yang sudah berumur di atas delapan tahun dan dirawat dengan baik.

Lada perdu memang cepat mulai berbuah, umumnya pada umur setahun setelah tanam. Lada panjat memang lebih lambat mulai berbuah, umumnya tiga tahun setelah tanam. Namun untuk dikebunkan, sangat disarankan untuk menanam lada panjat, kerena lebih tahan penyakit dan produksinya jauh lebih banyak. Lada perdu hanya disarankan sebagai tanaman sela sebagai tumpang sari, misalnya pada kebun kelapa sawit baru, kebun aren baru atau pada kebun karet baru. Selain itu lada perdu juga baik ditanam di dalam pot sebagai penghias halaman rumah yang buahnya dapat pula dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur sendiri.

Benar bahwa lada perdu dapat ditanam dengan populasi dua kali lipat lada panjat, namun tetap saja selisih hasil produksi per hektarnya akan jauh di bawah hasil dari tanaman lada panjat. Belum lagi jika penyakit datang menyerang, bila demikian, maka tak kecil kemungkinan tanaman lada perdu akan musnah dimakan jamur. Pengendalian penyakit pada lada perdu juga lebih sulit, karena semburan air semprotan obat akan sulit untuk menjangkau seluruh bagian tanaman yang rimbun teronggok. 

Karena itulah, sangat disarankan bagi peminat pemula bidang pertanian untuk terlebih dahulu mempelajari segala sesuatu sebelum memulai menanam suatu jenis tanaman varian baru. Jangan sampai gegabah menanam tanaman baru tetapi akan menyesal pada akhirnya. Berhati-hatilah ketika tertarik untuk menanam jati emas yang panennya lama, matoa yang pohonnya besar tapi buahnya sedikit, manggis sambung pucuk yang perkembangannya lambat, lada perdu yang rentan penyakit, durian kalimantan yang buahnya sangat besar tapi rasa daging buahnya hambar, aren genjah yang durasi masa panennya cukup singkat, gaharu yang modal inokulasinya sangat besar tetapi pasaran gubalnya masih tertutup,  atau jeruk nipis hasil persilangan yang kulit buahnya tebal dan kurang diminati pasar pabrikan.

Tetapi jangan ragu untuk menanam jati putih, manggis asal biji, lada panjat, durian montong, durian kani, durian petruk, durian sitokong atau durian bintan, aren dalam, dan jeruk nipis kampung yang kulitnya tipis.

Pertanian adalah bisnis yang paling aman dan stabil, namun tetap saja dibutuhkan pengetahuan dasar yang cukup dalam menjalankannya. Bisa belajar dari kegagalan atau juga keberhasilan sesama teman petani.  Akan halnya masalah penanganan teknis lainnya, tentu akan  datang dengan sendirinya seiring waktu proses budidaya. Kita jadikan tanaman yang kita tanam sebagai guru yang terdekat.  Kita temukan masalah, cari solusi, uji cobakan, lalu dapatkan inovasi baru.

Sebagai penutup, petani harus mau berubah. Harus mau belajar. Sekelumit tanaman varian baru nyatanya kurang menguntungkan, tetapi ada banyak lagi tanaman varian baru yang sungguh lebih baik.  Sebagai contohnya adalah varian lada ceylon yang tak henti berbuah dan lada india yang tampil dengan malai buah yang menakjubkan. Sayang, bibitnya belum tersedia di jual di Indonesia. 




Maukah pemerintah Indonesia mengusahakan pengadaan bibitnya? Ataukah pemerintah kini hanya terpaku pada pembangunan infrastruktur dan prasarana saja dan melupakan kebutuhan petani? Silahkan Bapak Joko Widodo menjawabnya secara riill. Dalam bentuk aksi nyata, bukan sekedar retorika. 

*** 

NB. yang butuh bibit lada bisa hub. saya di hp. 0813 7000 8997. Harga rp.7.000/polibag.