Senin, 09 Januari 2017

Revolusi Pertanian : Bertanam Lada di Kebun Sawit



Revolusi Pertanian : Bertanam Lada di Kebun Sawit
Awalnya, banyak petani menanam singkong jenis singkong malaysia pada lahan kebun sawit mereka yang sudah menua atau pun yang sebagian tegakan pohon sawitnya sudah tumbang akibat digerogoti jamur ganoderma boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang (basal stem rod).  Singkong malaysia memang dikenal sebagai varian singkong yang cukup toleran terhadap teduhan. Tetapi ketika harga singkong segar dan harga tapioka terjun bebas akibat derasnya arus barang impor sejenis, maka beberapa petani mengakalinya dengan menganti tanaman sela dari singkong malaysia menjadi tanaman lada.
Sebagian besar kita mungkin akan bertanya : bisakah kebun sawit yang sudah berproduksi ditanami dengan tanaman lada? Bisakah pohon sawit dijadikan tajar hidup bagi tanaman lada?
Jawabannya, bisa. Tetapi tentu saja ada beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
Ada pun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut :

1.Jarak tanam sawit adalah 9x9 meter. Minimal 8x9 meter.
2.Jenis tanah kebun adalah tanah darat kering/tanah mineral, bukan gambut apalagi rawa. Tanaman lada tidak toleran pada cekaman air dan ph tanah yang terlalu asam. 
3.Tinggi batang bersih sawit sebaiknya sudah ada 6 meter. Biasanya hal ini tercapai pada usia tanam 15 tahun.
4.Sebagian tegakan pohon sawit sudah tumbang akibat serangan busuk pangkal batang atau sebab lainnya.

Bertanam lada di kebun sawit sekarang bukanlah lagi sekedar wacana, tetapi telah dibuktikan keberhasilannya oleh petani di Bangka dan petani di Batanghari, Jambi. Beritanya dapat dibaca di

https://www.setarajambi.org/  juga sudah merilis foto-foto keberhasilan para petani tumpangsari sawit-lada di kabupaten Batanghari, Jambi.

Di Bangka, satu tegakan pohon sawit ditumpangsarikan dengan dua bibit lada. Di Batanghari, petani setempat menanam empat bibit lada pada setiap satu batang tegakan kelapa sawit mereka. Menurut tutur para petani pembaharu ini, tanaman lada tumpangsari  pada kebun sawit akan menghasilkan buah lada yang lebih sedikit dari pada yang ditanam di lapangan terbuka, tetapi didapati bahwa serangan jamur penyebab busuk pangkal batang dan penyakit kuning pada lada tanaman mereka sangat jauh berkurang. Patut dicatat bahwa, jamur penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada bukanlah ganoderma boninense, tetapi adalah fusarium oxisporum dan fusarium  solani.

Petani di Batanghari, Jambi, dapat menghasilkan satu kilogram biji lada putih kering dari satu rumpun tanaman lada mereka. Saat itu umur tanaman lada mereka adalah empat tahun. Sedangkan di Kabupaten Kampar, Riau, petani lada tumpangsari dengan sawit dapat meraih produksi dua kilogram biji lada putih kering dari setiap rumpun tanaman lada mereka, hanya saja umur tanaman lada itu sudah mencapai tujuh tahun.





Adapun cara menanam lada di kebun kelapa sawit itu adalah sebagai berikut.
Mula-mula petani membuat atau membeli bibit lada panjat atau lada sulur. Bibit lada umur 4 bulan itu lalu dipelihara lagi di dalam polibag ukuran 20x25 cm, diberi tiang tajar sementara  sampai tingginya satu meter. Biasanya hal ini tercapai dalam masa 4 bulan. Artinya, bibit yang ditanam ke lapangan adalah bibit lada yang berumur 8 bulan. Petani lalu membuat lubang tanam ukuran 30x30x30 cm sebanyak 2, 3 sampai 4 buah di sekeliling tegakan kelapa sawit. Jarak antar batang sawit dengan titik tanam lada adalah 70 cm. Parit kecil dibuat antara lubang tanam dengan pangkal batang sawit. Ke dalam lubang tanam dimasukkan media tanam berupa 2 kg sekam padi, 4 kg pukan fermentasi, 1 kg dolomit dan 100 gram pupuk NPK Phonska. Metan lalu diaduk dengan tanah galian secukupnya saja, dimasukkan ke dalam lubang tanam lalu dibiarkan seminggu sampai sepuluh hari. Bibit lada lalu ditanam dengan posisi miring ke arah batang sawit. Sulur lada dimasukkan ke dalam parit kecil lalu juga ditimbun. Ini untuk mencegah sulur lada rusak saat panen TBS atau saat penunasan pelepah sawit. Sisa sulur lada yang sepanjang 30 cm akan berada tepat bersisian dengan pangkal batang sawit. Sulur ini akan memanjat batang sawit dan dijadikan inangnya. Perinangan ini dalam dunia biologi dikenal dengan istilah simbiosis komensalisme, dimana salah satu tanaman diuntungkan tetapi tanaman yang lain tidak dirugikan.

Jika bibit lada dulunya dibesarkan di tempat teduh, maka sulur lada yang terlihat harus diberi peneduh, biasanya berupa pelepah daun sawit yang ditancapkan ke tanah. Tetapi jika bibit lada dulunya dibesarkan di tempat yang terbuka, maka peneduh tidak dibutuhkan. Selanjutnya perawatan tanaman lada tumpangsari ini sama saja seperti perawatan tanaman lada lainnya.

Pada titik dimana tegakan kelapa sawit sudah tumbang, maka petani menggantikannya dengan tajar hidup berupa tongkat setinggi 150 cm . Jenis kayu biasanya adalah lamtoro, dadap, gamal atau sengon. Tongkat kayu segar yang ditancapkan tadi akan tumbuh lebih cepat dari pada tanaman lada, karena lada memang termasuk tanaman yang pertumbuhannya sedikit lambat. Tongkat kayu lalu dipangkas saat mencapai ketinggian 3 sampai 4 meter.  Pemangkasan selanjutnya adalah setiap 6 bulan, dengan mempertahankan ketinggian tajar hidup.

Pertanyaan lain yang  sering diajukan para peminat pertanaman lada tumpangsari dengan sawit ini adalah :  apakah tanaman lada tidak rusak ketika panen TBS? Jawabnya adalah : mungkin saja akan rusak, tetapi kerusakan tidak akan terlalu berarti. TBS yang dipanen, ketika jatuh, jarang sekali ia jatuh dengan menggelinding di sepanjang batang kelapa sawit. Biasanya TBS akan terjun bebas berjarak 50 cm sd. 100 cm dari batangnya. Jarak ini sudah cukup aman buat menghindarkan kerusakan pada tanaman lada.

Pertanyaan selanjutnya : apakah tanaman lada ini bisa berbuah sementara di bawah pohon sawit itu suasananya cukup teduh? Jawabannya adalah bisa berbuah, tetapi tidaklah sebanyak bila lada ditanam secara monokultur. Itulah sebabnya petani di Batanghari tadi mengakalinya dengan menanam 4 batang bibit lada untuk setiap batang sawit inangnya. Pemupukan unsur N dikurangi sementara unsur P diperbanyak. Phosphat memang dikenal sebagai pupuk pembuahan. Tanaman yang cukup mendapat phosphat juga diketahui akan lebih tahan terhadap serangan jamur patogen.

Apapun argumen teoritis yang membantah, tetapi faktanya sudah ada petani yang berhasil membudidayakan lada pada kebun kelapa sawit. Mereka menikmati tambahan penghasilan sebesar 123 kg biji lada putih kering x rp.130.000 = Rp.16.000.000 (dibulatkan) pertahun perhektarnya. Itu sama dengan jumlah uang sebanyak 60% dari penghasilan panen TBS.

Jika banyak petani sawit yang mau menanam lada sebagai tumpangsari pada kebun sawitnya, maka tak pelak lagi, revolusi pertanian di Indonesia akan terjadi secara besar-besaran. Penghasilan petani akan kian terdongkrak, daya belinya meningkat, lalu kesejahteraan hidup para petani tak lagi sulit untuk diraih.

Salam sejahtera petani Indonesia!