Jumat, 26 Juni 2015

Menyadap Aren, Menangguk Rupiah yang Terabaikan




Aren diyakini sebagai tumbuhan palma endemik Asia, yang menyebar dari India Timur ke Malaya lalu ke Nusantara. Sudah beratus-ratus tahun pohon aren ini dimanfaatkan hasilnya oleh manusia.  Di antaranya adalah air nira yang diolah menjadi gula aren. Selain menghasilkan gula, aren juga menghasilkan kolang-kaling alias bargat. Kolang-kaling jamak dibuat menjadi bahan makanan dan minuman, semisal manisan dan es campur. Di luar itu, aren masih menghasilkan ijuk, yang berguna mulai dari untuk membuat sapu, sampai untuk pengisi jok mobil mewah. 

Deretan hasil pohon aren itu masih bisa ditambah lagi dengan produk akhir seperti alkohol farmasi, ethanol bakar (spiritus) dan methanol industri. Masih pula ada batangnya yang bisa dipakai untuk bahan bangunan kandang ternak dan gagang peralatan pertanian semisal cangkul dan babat.
Seakan belum cukup, pohon aren masih mempersembahkan tepung pati (sagu) yang sehat dan nikmat sebagai bahan dasar pembuat miehun kwalitas tinggi.  Akar dan daun aren juga diketahui dapat menjadi bahan pembuatan obat berbagai macam penyakit. Tak ketinggalan, pelepahnya pun bisa dipakai sebagai rangka atap gubuk atau dangau sederhana. 

Memikul seabrek manfaat buat manusia, tak membuat aren mendapat perhatian yang cukup. Nyatanya, masih sangat jarang orang yang terbuka pikirannya untuk mulai membudidayakan palma karib kelapa sawit dan rumbia ini.  Aren tetap tinggal di kubangan rawa nan pilu, tak dipedulikan orang lalu, sampai ia mampu memberikan sesuatu. Aren masih dianggap sebagai tumbuhan liar kreasi musang, jauh  panggang dari primadona komoditi pertanian.  Aren setia menetap di celah-celah hutan, tumbuh berdesakan, seumur hidup tiada mencium bau pupuk apalagi hormon perangsang tumbuh. Nasib aren terbelenggu rana dalam  kebodohan dan ketidak pedulian manusia. 

Padahal, aren ada menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Bila dibudidayakan, maka aren akan menghasilkan  uang sepuluh kali lebih banyak bila dibandingkan dengan  hasil berkebun kelapa sawit atau karet. Satu pohon aren saat disadap akan dengan mudah mempersembahkan uang sebesar 18.000 rupiah setiap harinya. Ini karena, rerata sepohon aren akan menghasilkan sekilogram gula aren dalam sehari,  yang dipasarannya  bernilai jual 18.000 s.d 20.000 rupiah. 

Mengapa aren masih dinista? Hal ini tak terlepas dari taktik ekonomi para penyadap aren sejak zaman kuda gigit dua jari. 

Umumnya para penyadap aren menyadap aren yang bukanlah miliknya sendiri. Mereka menyadap pohon aren milik orang lain dengan sistim bagi hasil yang tidak dijelaskan.  Jamaknya para penyadap hanya memberikan bagian pemilik pohon sekedar sekilo atau dua kilogram gula aren saja untuk tiap tandan aren yang mereka sadap. Padahal satu tandan aren itu masa sadapnya sekitar 3 bulan lamanya. Disadap pagi dan sore, satu tandan aren dapat menghasilkan lebih dari seratus kilogram gula aren alias gula merah. 

Bagaimana modus para penyadap itu melakukan triknya ? 

Mereka sepakat untuk mengenakan pakaian yang buruk, kotor, kumal dan tak bersalin pakaian selama menyadap aren. Mereka juga bernyanyi, melagu, membaca mentera saat melakukan proses-proses penyadapan aren. Mereka menghidupkan suatu mitos bahwa pohon aren adalah jelmaan seorang puteri yang lari ke hutan karena tak mau dijodohkan orang tuanya. Juga dikatakan bahwa setiap penyadap aren adalah suami bagi pohon aren yang disadapnya, sehingga penyadap harus berpantang berlaku genit terhadap perempuan lain, kecuali dengan istri sahnya. Para penyadap aren juga kompak menjalankan pola hidup sangat sederhana, sehingga orang lain menjadi tidak tertarik untuk menjalankan profesi yang sebenarnya cukup strategis ini. 

Hasilnya : para penyadap aren rerata adalah keturunan penyadap aren pula, dan mereka jarang mendapatkan pesaing di lapangan. Mereka pun bebas menentukan berapa bagian dari pemilik pohon. Meski hanya diberi satu persen pun, pemilik pohon tak bisa menuntut banyak, karena tak ada orang lain yang bersedia menyadap pohon aren yang kebetulan tumbuh di atas tanah miliknya. Ditambah rasa kasihan melihat peri kehidupan palsu  yang ditampilkan oleh para penyadap aren, maka lengkaplah sudah kesialan para pemilik pohon aren itu.

Fakta : dengan menyadap 10 pohon aren dan memasak niranya, seorang penyadap akan mendapatkan 12 kilogram gula aren kualitas baik. Itu setara dengan uang sejumlah 12 x 18.000 = 216.000 rupiah, setiap harinya. Belum lagi jika gula aren itu dioplos dengan cara dicampur molase, gula pasir, tepung tapioka dan sedikit sentuhan sari gula (siklamat)! Angka bersih 300.000 rupiah tidak akan sulit untuk dicapai. Setiap harinya!

Padahal, pekerjaan menyadap aren itu bukanlah pekerjaan yang sulit. Dengan pelatihan selama seminggu saja, seorang awan akan sudah cukup mampu untuk menyadap aren, tanpa perlu membaca mentera-mentera, tanpa harus memakai pakaian gembel ketika bekerja.

Karena itu, sudah saatnya para petani tanaman keras kita untuk merubah pola pikirnya. Jangan lagi terpaku hanya pada pola budidaya kelapa sawit dan karet saja. Masih ada puluhan varian tanaman lain yang potensi ekonominya jauh lebih tinggi. Ada pala, durian ungul, asam gelugur, jabon, gaharu dan aren yang menunggu untuk dibudidayakan dan akan memberikan hasil yang melimpah.  Di sisi lain masih ada lada, pepaya, pisang pilihan, cengkih, kopi ateng, singkong gajah, dan berbagai komoditi lain yang jauh lebih menjanjikan.
Kunci suksesnya adalah : ubah mindset, berontak, belajar sungguh-sungguh lalu budidayakan suatu varian tanaman secara baik, serius  dan terencana. 

Tanamlah 100 pohon aren di atas 4.000 meter persegi  lahanmu, wahai petani Indonesia. Dan rasakan kebebasan finansial delapan tahun mendatang. Tumpangsarikan dengan menanam pepaya atau cabe rawit, agar terjaga tungku periukmu tetap berasap setiap harinya.   

Salam petani kaya berjaya!