Jumat, 14 Agustus 2015

Budidaya Asam Gelugur, Kendala dan Solusi Terakhir!



Tanaman asam gelugur alias asam keping alias asam potong saat ini sedang naik daun. Nilai jual buahnya yang segar maupun yang sudah dikeringkan terus saja meroket dari waktu ke waktu. Saat ini harga asam gelugur gelondongan basah ada di kisaran rp.5.000/kg. Sedangkan yang kering jemur sudah bertengger di tangga harga rp.33.000/kg. Satu kg asam gelugur kering berasal dari lima kg buah asam segar.
Asam gelugur dipakai sebagai bahan penghasil vitamin C, bumbu dapur, bahan dasar kosmetik dan juga obat-obatan.
Jika dibudidayakan, tanaman asam gelugur akan mulai belajar berbuah pada umur 7 tahun. Sedangkan bila tumbuh liar di alam, tumbuhan penghasil rasa masam ini baru akan berbuah pada umur 9-10 tahun. Berat rerata sebutir buah adalah 350 gram.  
Selain harga jual produknya yang selalu menanjak, tanaman ini masih punya satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh tanaman lain. Asam gelugur dapat tumbuh secara abadi! Umurnya bisa sampai ratusan tahun. Hingga hasilnya bisa dinikmati oleh penanamnya, berikut anak, cucu, cicit, pirit, antah-antah dan oneng-onengnya. Tujuh turunan! Asam gelugur terus tumbuh seiring waktu, dengan buahnya yang semakin banyak. Tidaklah ganjil jika satu pohon saja bisa menghasilkan satu ton buah segar dalam satu tahun.
Lalu, apa kendala pembudidayaannya? Mengapa orang tidak lantas beramai-ramai menanamnya?
Karena : mendapatkan bibitnya tidaklah mudah. Dan, sampai berumur satu tahun, tanaman asam gelugur pada dasarnya adalah hidup dalam tahap kritis. Banyak sekali hama pemangsa, karena daun mudanya yang berasa segar asam-asam manis itu sangat disukai oleh hewan, mulai dari belalang sampai gajah.
Pemilihan bibit.
Tanaman asam gelugur yang bisa abadi itu, hanyalah yang bibitnya berasal dari biji. Jika dikembangkan secara vegetatif, maka akarnya yang tak punya akar tunggang itu akan membuat pohon mudah rebah saat sudah tinggi dan tertiup angin kencang. Selain itu, mengembangkan asam gelugur secara vegetatif juga bukanlah perkara mudah. Jika dicangkok, maka tingkat keberhasilannya (menurut pengalaman penulis) adalah di bawah 10 persen. Beda jauh dengan mencangkok jambu, yang tingkat keberhasilannya bisa 100 persen. Atau bandingkan dengan sambung pucuk pohon kakao yang bisa jadi 80 persen.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan perbanyakan lewat stek akar. Cara ini lumayan berhasil, namun jumlah bibit yang bisa dihasilkan sangatlah terbatas, mengingat pohon indukan akan mati jika akarnya terlalu banyak dipotong dan diambil.

Sebenarnya, masih ada cara lain untuk perbanyakan tanaman asam gelugur, yakni dengan teknik sambung pucuk. Sayangnya, cara ini juga bukannya tanpa kendala. Pucuk yang bisa dipakai hanyalah pucuk yang puncak menghadap ke atas (roof top). Otomatis dalam satu batang indukan, hanya akan didapat satu atau dua pucuk roof top. Bila disambung dengan pucuk ranting seperti pada pohon durian, mangga dan jeruk, maka sambungan itu akan tumbuh tetap ke samping, tidak mau mengarah ke atas, meski sudah ditopang atau bahkan meski sudah di potong/dipangkas. Karena sulitnya mencari pucuk roof top tanaman asam gelugur yang berasal dari indukan yang baik ini, maka tak heran jika harga bibit asam gelugur asal sambung pucuk yang siap tanam harganya mencapai seratus ribu rupiah perbatang. Itu pun sulit mendapatkannya. 

Memangnya, apa masalahnya jika diperbanyak lewat biji?

Pertama, mendapatkan bijinya tidaklah mudah. Buah asam gelugur umumnya dipanen oleh pengepul saat buahnya masih hijau. Otomatis bijinya tidak bisa dijadikan bibit.
Mengapa tidak menunggu sampai buahnya matang?
Matangnya buah sangat tidak serempak. Jika di pohon ada seribu butir buah asam, dalam satu hari bisa-bisa yang matang dan jatuh hanya sepuluh sampai dua puluh buah saja. Selain itu, buah yang sudah matang akan menghasilkan asam potong kering yang lebih sedikit. Satu kg asam potong kering berasal dari 4 sampai 4,5 kg buah asam yang masih hijau, jika sudah matang maka angkanya adalah 5-6 kg.    

Kedua, jika bibit berasal dari biji, maka persentase kemungkinan jantan cukup tinggi. Menurut pengalaman penulis, dan hasil sharing dengan teman-teman sesama petani asam gelugur, persentase kemungkinan jantan itu ada di kisaran 20-40 persen. Penulis pernah menanam 10 batang asam gelugur dan yang jantan 3 pohon. Seorang teman di Aceh menanam 215 pohon dan yang jantan 78 pohon.

Sayangnya, sampai detik ini belum diketahui cara membedakan mana bibit jantan dan mana bibit betina. Benar bahwa ada berbagai teori dikemukakan oleh berbagai pihak, namun setelah penulis uji di lapangan, tak satu pun teori itu yang akurat. Pohon asam gelugur diketahui jenis kelaminnya hanya saat ia sudah berbunga, pada umur sekitar 6,5 tahun. Bunga yang bercabang-cabang dan banyak dalam satu tangkai menandakan bahwa pohon penghasilnya adalah pohon jantan. Sedangkan bunga betina yang akan menjadi buah umumnya hanya satu buah dalam satu tangkai.

Sifat kelamin asam gelugur juga adalah sifat yang kuat, tidak akan berubah dengan perlakuan seperti pada tanaman pepaya. Jadi, jika ada teori yang mengatakan bahwa asam gelugur dapat dijadikan betina semua dengan cara dipotong akarnya, dibacoki kulitnya atau ditusuk pucuknya, maka teori itu sesunguhnya tidaklah dapat dijadikan panduan.

Lalu, apa solusinya?

Solusinya sederhana saja, namun akan makan biaya sedikit lumayan. Tanamlah bibit asam asal biji dengan populasi dua kali lipat jumlah normal. Misalnya jarak tanam normal adalah 8 x 8 meter, maka tanamlah dalam satu lubang dua bibit.. Nanti, sebagian yang jantan ditebang. Tinggalkan 17 batang dalam satu hektar. Jangan lupa berdoa semoga yang jantan tidak terlalu bergerombol posisinya.  Kayu hasil tebangan pohon asam jantan itu bisa dijual ke pasaran. Untuk bahan bakar pembuatan batu bata, misalnya.

Jika punya satu hektar saja pohon asam gelugur yang sudah dewasa, maka satu keluarga kecil sudah bisa hidup dengan nyaman secara ekonomi. Sampai ke anak, cucu, cicit, pirit, antah-antah dan oneng-oneng. Tujuh turunan!

Syaratnya, ya setiap individu keturunan itu menanam minimal satu hektar asam gelugur juga. Kalau satu hektar tanaman asam gelugur itu digerogoti oleh tujuh turunan, jangankan uangnya atau buahnya, akarnya pun bisa habis tak bersisa.