Minggu, 02 Agustus 2015

Harga Karet dan Sawit Jatuh, Kemana Pekebun Melirik?



Harga Karet dan Sawit Jatuh, Kemana Pekebun Melirik?

Saat ini, harga komoditi perkebunan berupa tandan buah segar (TBS) kelapa sawit harganya telah jatuh ke titik nadir. Dari harga Rp.1.300/kg beberapa bulan yang lalu, kini hanya tinggal sekitar setengahnya. Nasib lebih apes dialami oleh komoditi karet, yang harganya sudah jatuh sejak setahun lalu, dipicu oleh  turun drastisnya harga minyak dunia. 

Banyak sudah pekebun karet yang memutuskan menebang tanaman karetnya yang masih dalam masa aktif berproduksi.  Mereka memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan menanam komoditi perkebunan yang lebih menjanjikan.. Yang lain memilih menunggu harga membaik sambil menghentikan penyadapan. Harga karet satu hari saat ini sudah menyentuh level Rp.5.000/kg. Petani rakyat yang biasa membagi dua hasil sadapan dengan penyadap, tak dapat lagi menikmati hasil tanamannya, karena banyak penyadap yang memilih hengkang dari pekerjaan, karena sudah tak menjanjikan lagi. Bayangkan saja, untuk mendapatkan hasil Rp.75.000/hari, seorang penyadap harus menghasilkan karet sebanyak 30 kg. Padahal seringnya satu hektar lahan karet rakyat hanya menghasilkan karet sadapan sebanyak  setengahnya. 

Kurangnya pendapatan pekebun karet membuat mereka kesulitan dana untuk membeli pupuk. Kebun karet tak lagi dipupuk sesuai standar, akibatnya hasil pun akan makin berkurang. Ditambah musim kering yang semakin keras di sebagian besar wilayah Indonesia, maka lengkaplah sudah derita para pekebun karet.
Nasib tak kurang sial juga dialami para pekebun sawit kelas kecil. Harga TBS yang tinggal setengah dari harga biasanya,  membuat mereka kelimpungan. Setelah dipotong ongkos panen dan biaya perawatan termasuk pemupukan, maka nyaris tak ada lagi dana tersisa yang bisa dibawa pulang. Patut dicatat, tanaman kelapa sawit termasuk tumbuhan yang rakus hara, hingga membutuhkan pemupukan yang lebih banyak. Sawit juga dikenal sebagai tanaman ‘gajah minum’, karena setiap harinya sebatang pohon sawit dewasa bisa menghabiskan 30 liter air. 

Tegakan karet dan sawit pun ditebang. Instabilitas harga produk mentah selama sepuluh tahun terakhir berakumulasi pada keputusan pekebun untuk mencari alternatif baru. Pekebun lalu mencari tanaman apa saja yang mampu memberikan rupiah lebih baik, dan harganya tidak sering gonjang-ganjing sewktu-waktu. Apa saja itu?

1.Aren.
Tanaman aren menghasilkan gula aren, gula semut, metanol, etanol dan alkohol dari hasil olahan niranya. Selain itu masih ada produk kolang-kaling, ijuk, pati aren dan batang kayu aren. Harga produknya yang beragam itu juga cenderung terus menanjak seiring inflasi. Tanaman aren juga dikenal nyaris tak memiliki hama dan penyakit. Kendalanya adalah masa panen yang cukup lama, sekitar 7-8 tahun setelah tanam. Budidaya aren disarankan dengan sistim tumpangsari dengan tanaman muda semisal pepaya, singkong, lada, bumbu-bumbuan dan sebagainya.
2.Asam gelugur.
Meski produk tanaman asam gelugur hanya satu, yakni asam potong alias asam keping, namun harga jualnya tak pernah jatuh, bahkan terus meroket mengikuti makin beragamnya penggunaannya. Saat ini harga buah asam segar tercatat Rp.5.000/kg, dan harga asam potong kering sudah meroket mencapai level Rp.32.000/kg. Satu kilogram asam potong kering berasal dari lima kilogram buah asam gelugur segar. Pohon asam gelugur juga punya kelebihan yang istimewa. Pohon ini dijuluki sebagai pohon abadi. Karena masa hidupnya yang dapat mencapai ratusan tahun dengan produksi buah yang terus bertambah. Satu pohon asam gelugur yang sudah berumur 30 tahun dapat menghasilkan buah 700 kg pertahun.
Karena masa tunggu produksi yang juga setara tanaman aren, maka disarankan juga untuk menumpangsarikannya.
3.Singkong.
Siapa yang tak kenal singkong alias ubi kayu? Tanaman yang nama aslinya adalah ketela pohon ini adalah penghasil tepung tapioka. Cara budidayanya yang sangat mudah dan harga jual umbi segarnya yang stabil menanjak, membuat banyak juga pekebun yang jatuh hati untuk menanamnya. Saat ini harga umbi segar singkong di level Rp.1.100/kg. Harga terhitung di pabrik tapioka. Produksi singkong segar per hektar antara 30-150 ton, tergantung jenis tanah, varietas dan perawatan.
4.Lada.
Harga lada putih meroket! Nyaris menyentuh angka Rp.200.000/kg. Para pengoplos pun beraksi. Membuat lada palsu berbahan dasar tepung. Pengoplosnya ditangkap polisi. Mereka pun kini damai beristirahat di dalam hotel tak berjendela.  
Lalu, mengapa pekebun tak terlalu ramai yang hijrah ke komoditi ini? Selain mendapatkan bibitnya agak susah, membudidayakan lada juga bukanlah perkara gampang. Ada penyakit busuk akar yang sentiasa mengancam pekebun baru yang amatiran. Untuk membuka kebun lada juga butuh modal yang tak sedikit. Bagi newbie, disarankan untuk mencobanya dalam skala kecil terlebih dahulu.
5.Pepaya.
Pasar buah lokal kita sebenarnya masih terbuka lebar. Apalagi sejak naiknya kurs Dolar. Harga buah impor naik drastis, yang harusnya akan makin memuluskan usaha penanaman buah pepaya.
Harga buah pepaya jenis California saat ini rerata rp.3.000/kg. Sedangkan harga pepaya Bangkok sedikit dibawahnya. Satu pohon bisa menghasilkan buah 100 kg selama satu masa tanam (2 tahun). Satu hektar berisi 2.000 pohon, dengan jarak tanam 2 x 2,5 meter.
Uang yang bakal dihasilkan memang banyak, di atas kertas. Namun budidaya pepaya juga lumayan rumit. Disarankan agar pemula belajar dulu secara paripurna sebelum memutuskan menanamnya dalam skala di atas satu hektar. Sebagai gambaran, ada sebelas jenis hama dan penyakit yang jamak menyerang tanaman di kebun pepaya yang tak terawat dengan baik.  Jangan samakan dengan bila menanamnya sepohon dua pohon di halaman rumah.
6.Pala.
Komoditi pala, sebagaimana lada, adalah tanaman lama. Sudah dikembangkan sejak zaman Portugis. Harga jual biji pala saat ini adalah di kisaran Rp.75.000/kg. Sedangkan harga bunga pala (fuli) sekitar Rp.150.000/kg. Satu kilogram pala Banda isinya sekitar 75 biji. Sedangkan varian lain sekitar 100 biji.
Kendala pengembangannya adalah sulitnya mendapatkan bibit pala varian unggul semisal pala Banda. Dan bila bibit pala itu asalan biji, maka kemungkinan jantannya cukup besar.  Biji pala pun tidak mudah menumbuhkannya. 24 jam setelah jatuh dari pohonnya, biji harus sudah tertanam. Jika lebih, maka kemungkinan tumbuh akan makin kecil. Jika Anda berminat menanam pala, disarankan untuk menanam bibit yang dibuat dengan sistim sambung pucuk. Meskipun harga bibitnya lumayan mahal, berkisar Rp.15k-20k perbatang, namun tingkat keberhasilan akan jauh lebih tinggi.
7.Gaharu.
Gaharu alias oudh alias agarwood dikabarkan harga jualnya berjuta-juta rupiah perkilogramnya. Namun pembelinya tak pernah jelas. Pemasarannya sulit. Modal membudidayakannya juga sangatlah mahal. Karena pohon penghasil gaharu semisal aquilaria malaccensis, microcarpa, grinops, krisna, dan lain-lain itu butuh diinokulasi pada umur 5 tahun. Biaya inokulasi sebatang pohon gaharu adalah sekitar rp.650.000.
Gubal gaharu memang bisa terbentuk secara alami, tetapi kemungkinannya hanya 0,1%.
Yang paling penting dalam budidaya gaharu adalah pastikan dulu pemasarannya. Jika tak pasti, mending bertanam kangkung. Kalau pun tak laku, minimal bisa disayur sendiri.Apalagi memang lotek kangkung terkenal lezatnya. Nyem, nyem.....