Rabu, 17 Juli 2013

Pabrik Kelapa Sawit Mini, Tinjauan Awal

                                                             
Makin meluasnya lahan penanaman kelapa sawit di Indonesia namun tidak atau belum diiringi dengan pendirian pabrik pengolah produk kelapa sawit yang cukup, membuat usaha mendirikan dan menjalankan pabrik kelapa sawit mini (selanjutnya ditulis PKSM) menjadi usaha yang sangat potensial.
Saat ini, banyak petani dan bahkan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengalami kesulitan mengolah tandan buah segar (selanjutnya disebut TBS) kelapa sawitnya pada musim panen raya dan saat musim penghujan. Sarana transportasi yang kurang baik dan jauhnya jarak antara perkebunan dengan PKS membuat banyak TBS yang tidak dapat diolah tepat waktu. TBS sendiri hanya punya waktu lima hari harus dipanen bila sudah gugur 6 buah berondolannya, dan setelah dipanen, hanya punya waktu tunggu 24 jam untuk diolah di PKS. Bila jadwal ini dilewati, maka mutu dan rendemen CPO dalam TBS akan mengalami penurunan yang signifikan.
Secara singkat dapat kami gambarkan bahwa saat ini di Indonesia produksi TBS jauh melebihi kapasitas produksi PKS yang ada. Ini belum lagi jika PKS besar mengalami kerusakan, boiler meledak misalnya. Perbaikan kerusakan berat seperti itu bisa berbulan-bulan lamanya. Dapat dibayangkan akibatnya bagi petani yang jauh dari PKS lain.
Selain itu, hitungan potensi ekonomi lainnya adalah selisih harga antara TBS dengan CPO sebagai bahan produk awal PKS yang cukup besar, juga membuat usaha membuat PKSM ini menjadi sangat menguntungkan. Menurut pengalaman penulis yang pernah 5 tahun bekerja di pabrik penggilingan padi, 4 tahun dipabrik pengolahan minyak makan dari kopra dan 6 tahun di PKS, secara kasar keuntungan bersih perusahaan itu adalah semua nilai hasil sampingannya. Hasil penjualan produk utama telah cukup untuk membiayai termin pengembalian modal (pay back period), gaji pekerja, perawatan mesin dan peralatan, sumber energi, dan biaya produksi lainnya.
Pada pabrik penggilingan padi misalnya, penjualan beras sudah cukup membiayai modal membeli bahan, pengembalian modal bertahap dan ongkos produksi, sementara penjualan dedak adalah keuntungan perusahaan. Dari mengeringkan dan menggiling 20 ton gabah kering panen kw 1, didapat 12 ton beras dan 2 ton dedak halus bercampur bekatul. Penjualan 2 ton bekatul setiap hari ini uangnya bukanlah sedikit. 2000 kg x 2000 rupiah = 4 juta rupiah perhari !
Demikian juga pada PKS mini. Penjualan CPO seharusnya sudah cukup membiayai pembelian TBS, pengembalian modal bertahap dan ongkos produksi lainnya. Sedangkan penjualan minyak inti (PKO) dan ampas yang dijadikan bahan baku pakan ternak, adalah keuntungan bersih perusahaan.
Namun tentu saja menurut ilmu ekonomi hitungannya tidaklah sesederhana itu. Adapun perhitungan untuk mendirikan dan menjalankan PKS mini secara ekonomi dalam skala makro adalah sbb:
1.1 unit (1u) digester
2.1u mesin thereser
3.1u boiler kap.600kg uap/jam.
4.1u fruit elevator.
5.1u sterilizer untuk kap.1.000 kg TBS/jam.
6.1u tangki klarifikasi.
7.1u vibrating screen.
8.1u tangki awal minyak mentah dengan pompa.
9. 1u penangkap pasir.
10.1u mesin press mini kap. 1000 kg TBS/jam.
11.1u tangki CPO akhir kap.27 ton.
12.1u genset 80 KVA.
13.1u nut bin/nut conveyor.
14.1u cake breaker conveyor.
15.1u pemisah fiber.
16.1u ripple mill kap. 5 kwintal biji/jam.
17. paket pipa dan katup.
18. paket instalasi kelistrikan, dan
19.paket pemasangan, uji coba dan pelatihan karyawan.
Modal kembali sekitar 3 tahun, dan jumlah karyawan 6-7 orang dalam satu shift.
Paket ini adalah untuk satu unit PKS mini kapasitas 1 ton perjam atau 22 ton per hari. Setiap satu hari dianggap ada perbaikan yang memakan waktu 2 jam.
Biaya total diperkirakan sebesar rp.8,5M.
Kemahalan?
Bisa anda coba membangun PKSM dengan spesifkasi PKSM kap. 200 kg perjam yang modal awalnya sekira Rp.2M.
Unit pengolahan PKSM ini hanya terdiri dari boiler , sterilizer, thresher , screw press , clarification tank , digester, fruit elevator, ripple mill, fibrating screen, dan tangki penampungan kap.5 ton.
Modal kembali sekitar 3 tahun, dan jumlah karyawan 2-3 orang dalam satu shift.

READY STOCK : BIBIT SAWIT RP.900/BUTIR
KECAMBAH, BIBIT KARET RP.500/BUTIR.
BIBIT AREN UMUR 9 BULAN SIAP TANAM RP. 4.000/POKOK.
BIBIT AREN UMUR 5 BULAN ( UNTUK PENGIRIMAN JARAK JAUH ), HANYA RP. 2.500/POKOK.
 HP. 0813 7000 8997.. DENGAN MUHAMMAD ISNAINI.  .