Rabu, 17 Juli 2013

Orang-orang Lapar Itu (True Story)

Suatu hari, penjaga kebunku datang melapor dengan wajah cemas. Ia mengatakan bahwa buah pinang yang ada di kebun yang dijaganya telah hilang kemarin. Dan ia tak tahu siapa yang mengambilnya. Aku menyahutinya biasa saja, lalu mempersilahkan ia masuk ke dalam rumah, untuk kemudian disuguhi segelas minuman.

Selesai minum, raut wajah cemas itu tak jua surut. Ada semacam ketakutan.
“Sudahlah pak, itu bukan masalah”, kataku menenangkannya.
“Tapi bang, itu sudah kelewatan, selama ini gak pernah hilang”, tukas sang penjaga kebun. Ia memang kuminta menjaga kebun sawitku yang tak seberapa itu, yang sekelilingnya ditanami pohon pinang. Bapak itu juga kuberi kuasa untuk memanen,menjual dan menerima uangnya, untuk kemudian ia serahkan padaku, dan aku akan langsung menyerahkan uang bagian ia.

Aku lalu mengajaknya membicarakan sawit, dan ia menerangkan dengan apa adanya.
Tetapi agaknya beliau masih terganggu dengan hilangnya buah pinang itu.
”Cemana tu bang ?”, tanyanya kepadaku. Ia memanggilku abang, padahal ia sedikit lebih tua dari pada aku. Dan aku biasa memanggilnya bapak, karena aku menghormatinya.
”Gak usah dipikirkan, yang penting sawitnya gak hilang”, kataku sambil senyum lebar.
Barulah tampak kelegaan di wajahnya. Setelah basa-basi sejenak, ia minta diri.

Sepeninggalnya, aku tercenung. Aku tahu, pinang bukanlah sesuatu yang berharga mahal. Sekilonya cuma beberapa ratus rupiah. Dan butuh perjuangan berat untuk bisa mengumpulkan pinang yang jika dijual cukup untuk mendapatkan uang untuk membeli sembako kebutuhan satu hari . Namun bukan itu yang mengusikku. Yang mengusikku adalah, apa yang dilakukan ‘pencuri’ pinang itu, dulu juga pernah aku lakukan !

Masa itu adalah waktu-waktu yang sangat berat. Kami sekeluarga yang ditinggal ayah, sering tak makan. Saudaraku berlima, yang tertua masih usia kelas empat SD, yang nomor dua kelas tiga, aku kelas dua, bawahanku belum sekolah, dan adikku yang paling kecil masih dalam kandungan ibu. Kalau kami lapar, biasanya sepulang sekolah kami bertiga, aku dan kedua abangku, pergi membawa parang ke hutan belukar, atau bekas peladangan orang, untuk mencari sisa-sisa ubi, keladi, atau apapun yang bisa dipakai untuk mengganjal perut. Bahkan saat kami tak berhasil membawa apapun, ibu merebus bonggol pisang untuk kami makan.

Pernah sekali, abangku terkena demam malaria akut, aku dan ibu harus pergi berjalan kaki berkilometer jauhnya, untuk minta bantuan seorang teman ibu.. Syukur ada yang membantu. Aku masih ingat, namanya Pak Abdul Rahim, bekas teman ibu waktu di Sekolah Rendah(SR). Ia memberikan sedikit uang, beras dan obat malaria. Kami lalu diantar pulang naik sepeda motor Yamaha L2. Itulah pertama kali aku naik sepeda motor.

Dan aku senang sekali waktu itu, bisa makan nasi, walau lauknya cuma kepala ikan asin yang dibakar.

Untuk membayar SPP SD yang besarnya lima puluh rupiah (Rp.50.-) sebulan itu, kami sering tak punya uang. Kadang nunggak sampai enam bulan. Tetapi hampir tak pernah ditagih oleh sekolah, karena Kepala Sekolahnya adalah juga bekas teman sekolah ibu. Namun saat dekat ujian, resah juga hati ini, malu karena belum bayar SPP.
Untuk itu, aku terpaksa harus mencuri pinang ! Kujual, lalu uangnya kubayarkan SPP. Beberapa kali hal buruk itu kulakukan. Setelah terkumpul sedikit uang, aku yang masih usia sembilan tahun itu pun lalu berubah profesi, jadi pengepul pinang. Pinang kubeli, dengan terlebih dahulu memanjat pohonnya untuk mengambil buahnya, seharga seratus rupiah sekaleng, kira-kira seberat dua belas kilogram, untuk dijual seharga dua ratus rupiah perkalengnya.

Aku mulai jadi wirausahawan, begitulah seterusnya, hingga kini sudah mulai menapaki usia tua, dan hidup tak kekurangan bersama anak dan istri. Saudaraku yang lain juga sudah meninggalkan kesengsaraan kami, yang termuda bahkan kini sedang mengambil kuliah strata tiga (doctoral) di salah satu perguruan tinggi ternama di Australia.

Namun rupanya kesengsaraan itu tidak hilang dari muka bumi ini, hanya berpindah tempat, dari aku ke orang lain, entah siapa. Dalam diam, air mata ini menitik perlahan, lalu lirih terucap do’a, Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dosa-dosa kami, dan limpahkanlah rejeki yang baik lagi cukup kepada orang yang terpaksa mencuri pinangku itu, janganlah kepahitan yang pernah kualami, terlalu lama ia rasakan. Janganlah biarkan mereka selalu lapar, berilah mereka makan yang cukup, ya Illahi Robbi.

Seiring keihklasan mengalir, membasahi tiap kisi rongga hati. Dan siluet kesyukuran membersit dari celah-celah dinding iman. Sembari terbayang, kasih sayang, kesengsaraan, dan perjuangan almarhumah ibu yang kini telah tiada, yang tak sempat melihat kami bahagia …..